Harga RBS Sawit di Kaltim Semakin Kompetitif

Kepala Disbun Kabupaten Berau, Lita Handini. (ISTIMEWA)

benuakaltim.co.id, BERAU– Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Kabupaten Berau, Lita Handini mengatakan penetapan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani swadaya Kalimantan Timur (Kaltim) semakin dinamis dan menguntungkan.

Hal ini didorong oleh persaingan harga yang ketat, terutama di wilayah seperti Tabalar, Berau, menyusul kehadiran Pabrik Kelapa Sawit (PKS) yang beroperasi tanpa kebun inti, seperti PT Pesona Sawit Abadi (PSA).

“Penetapan harga TBS di Kaltim dilakukan secara kolaboratif dan ditetapkan per dua minggu di tingkat provinsi,” ucapnya, Rabu (5/11/2025).

Baca Juga :  BMKG Berau Usulkan Alat Deteksi Tsunami ke Pemkab

Proses penetapan harga ini dipimpin oleh Kepala Dinas Perkebunan Provinsi dan melibatkan berbagai pihak terkait.

“Termasuk semua Kepala Dinas Perkebunan se-Kaltim, perwakilan perusahaan, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), dan perwakilan Apkasindo (Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia),” bebernya.

Terutama kenaikan harga dan dampak positif persaingan kelapa sawit di Kaltim.

“Saat ini juga harga sawit di Kaltim sedang dalam kondisi baik. Harga TBS berada di kisaran Rp2.900 hingga Rp3.200 per kilogram yang sudah dianggap sebagai harga yang bagus dan menguntungkan bagi petani,” tuturnya.

Baca Juga :  Asik Cuci Motor di Pinggir Sungai, Pemuda di Jalan Kelay Diterkam Buaya

Sehingga, bagi dia, kehadiran PKS tanpa kebun seperti yang ada di Tabalar, Berau, memberikan dampak positif bagi petani, terutama bagi petani swadaya yang tidak terikat kemitraan.

“Keberadaan PKS yang baru memicu persaingan harga. Positifnya itu terjadi persaingan harga yang mudah-mudahan persaingan yang sehat,” ungkapnya.

Terutama petani kelapa sawit swadaya yang tidak terikat perjanjian kemitraan kini memiliki lebih banyak pilihan untuk menjual hasil panen mereka, yang memungkinkan mereka memilih perusahaan yang menawarkan harga terbaik.

“Minimal penurunan harga meskipun petani swadaya mungkin mengalami perbedaan harga, penurunan yang terjadi relatif kecil, dengan selisih paling jauh sekitar Rp200 per kilogram dari harga yang ditetapkan,” jelasnya.

Baca Juga :  Pemkab Berau Siapkan Anggaran Fantastis untuk Pemerataan Air Bersih

Sebab, jaminan harga lebih tinggi dengan bersaingnya PKS di wilayah sekitar Tabalar hingga Biatan, harga buah-buah sawit di daerah tersebut menjadi bagus.

“Petani yang sudah bermitra dengan perusahaan tetap wajib mengikuti perjanjian harga yang telah disepakati Namun, banyaknya petani yang tidak bermitra mendapatkan manfaat langsung dari persaingan,” pungkasnya. (*)

Reporter: Georgie Silalahi

Editor: Endah Agustina

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *