“Komoditas lain dengan peningkatan nilai ekspor tinggi adalah berbagai produk kimia yang naik sebesar 12,23 juta dolar atau 28,17 persen, lantas golongan barang bahan bakar mineral yang naik 9,97 juta dolar atau 0,79 persen,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kaltim Yusniar Juliana di Samarinda, Rabu.
Untuk bahan bakar mineral, meski hanya naik 9,97 juta dolar atau hanya 0,79 persen, namun secara nilai total merupakan komoditas yang menyumbang paling tinggi, yakni mencapai 1,27 miliar dolar AS dari total ekspor Kaltim pada Oktober yang sebesar 1,67 miliar dolar tersebut.
Peningkatan nilai ekspor ke sejumlah negara tujuan antara lain ke China naik 97,79 juta dolar atau 17,78 persen, ke Pakistan naik 27,39 juta dolar atau 1.850,68 persen (dari 1,48 juta dolar pada September menjadi 28,87 juta dolar pada Oktober), dan ekspor ke Bangladesh naik sebesar 20,48 juta dolar atau 31,50 persen.
“Terdapat tiga pelabuhan yang memberikan sumbangan terbesar terhadap ekspor Kaltim pada Oktober 2025, yakni Pelabuhan Balikpapan senilai 487,96 juta dolar, Pelabuhan Samarinda 339,22 juta dolar, dan Pelabuhan Bonthan Bay senilai 293,36 juta dolar,” ujarnya.
Ia melanjutkan, secara kumulatif nilai ekspor Provinsi Kaltim selama Januari – Oktober 2025 sebesar 17,1 miliar dolar AS, mengalami penurunan 14,71 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada 2024.
Ia juga mengatakan, selama periode Januari – Oktober 2025, China merupakan negara tujuan ekspor utama yang memiliki peranan terbesar bagi Kaltim dengan nilai ekspor sebesar 5,08 miliar dolar AS atau sebesar 32,94 persen, diikuti India dengan nilai 2,6 miliar dolar atau 16,84 persen), dan Filipina sebesar 1,28 miliar dolar atau 8,34 persen.
“Pada periode Januari – Oktober 2025, komoditas hasil tambang tetap menjadi andalan ekspor bagi Provinsi Kaltim dengan peranan sebesar 69,60 persen. Hasil industri berada pada posisi kedua dengan peranan 20,59 persen, dan nilai ekspor migas pada posisi ketiga dengan peranan 9,7 persen,” kata Juliana.
Sumber : Antara






