4 Ribu Anak di Berau Masuk Kategori Tidak Sekolah

Ilustrasi. (INTERNET)

benuakaltim.co.id, BERAU– Angka Anak Tidak Sekolah (ATS) di Kabupaten Berau hingga saat ini masih tinggi, yakni mencapai 4 ribu anak.

Sekretaris Disdik Berau, Ali Syahbana mengatakan, kategori ATS tidak hanya terbatas pada anak yang sama sekali belum pernah mengenyam pendidikan. Di dalamnya juga termasuk anak yang pernah sekolah namun berhenti di tengah jalan, serta anak yang lulus dari satu jenjang tetapi tidak melanjutkan ke jenjang berikutnya.

“Anak tidak sekolah itu sudah termasuk mulai dari awal tidak sekolah sama sekali. Kemudian, anak yang mungkin pernah bersekolah tapi berhenti, dan anak yang tidak melanjutkan sekolah,” kata Ali, Selasa (6/1/2026).

Kondisi tersebut membuat pihaknya heran, sebab setiap tahun Disdik selalu meminta pertanggungjawaban dari satuan pendidikan terkait keberlanjutan siswa setelah lulus.

Baca Juga :  Kawal Aspirasi Warga Segah, DPRD Berau Soroti Pendidikan dan Layanan Kesehatan

“Setiap tahun itu kami minta pertanggungjawaban dari sekolah, ada enggak anak yang tidak melanjutkan. Tapi rata-rata sekolah menjawab semua melanjutkan,” ujarnya.

Namun, realitanya tidak selalu sejalan dengan laporan administrasi. Disdik menduga ada anak yang berhenti sekolah di tengah jalan tanpa melapor, atau lulusan SMP yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.

Untuk memastikan data dan menelusuri penyebabnya, Disdik Berau kini menggencarkan kerja sama lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Sejumlah instansi yang dilibatkan antara lain Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil), Dinas Sosial, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK), Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD), serta Bapelitbang.

Baca Juga :  Sri Juniarsih Mas Dorong Transformasi Ekonomi Berau dari Tambang ke Sektor Hijau

“Kerja samanya untuk mengurangi anak ATS ini. Jadi ATS akan terus diupayakan supaya jumlahnya semakin sedikit,” imbuhnya.

Upaya pengurangan ATS juga telah dimasukkan ke dalam master plan pendidikan Berau tahun 2026–2030. “Targetnya pun jelas, pada 2030 nanti diharapkan tidak ada lagi anak usia sekolah yang berada di luar sistem pendidikan,” harapnya.

Menurutnya, faktor jarak sekolah bukan lagi alasan utama anak tidak bersekolah di Berau. Sebab, hampir seluruh kampung dan kecamatan sudah memiliki akses sekolah, mulai dari PAUD, SD, hingga SMP. Bahkan di wilayah terpencil sekali pun, Disdik telah menyiapkan sekolah filial.

Baca Juga :  Gelontorkan Rp135 Miliar, PUPR Berau Bakal Percantik Drainase dan Irigasi

“Tidak ada istilah anak tidak sekolah hanya karena sekolah jauh. Tidak ada istilah anak tidak sekolah karena mahal. Sekarang kan gratis,” tuturnya.

Adapun faktor lain berasal dari lingkungan keluarga. Rendahnya motivasi orangtua, kondisi ekonomi, hingga ketiadaan dokumen seperti kartu keluarga menjadi kendala tersendiri.

Dalam beberapa kasus, anak lahir dari pernikahan siri sehingga mengalami kesulitan dalam pengurusan dokumen, yang akhirnya berdampak pada akses pendidikan.

“Itu salah satu faktor. Termasuk mungkin faktor ekonomi, misalnya sulit beli baju. Tapi, program seragam gratis kini sudah berjalan, sehingga tidak ada lagi alasan sulit beli seragam sekolah,” pungkasnya. (*)

Reporter: Georgie Silalahi

Editor: Endah Agustina

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *