Samarinda – Investasi sektor pertanian dalam arti luas yang masuk ke Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) hingga triwulan III-2025 mencapai Rp8,97 triliun, terdiri atas subsektor tanaman pangan, perkebunan dan peternakan yang tersebar di sembilan kabupaten/kota.
“Nilai investasi sebesar itu berasal dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA),” ujar Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Kaltim Fahmi Prima Laksana di Samarinda, Senin (12/1).
Dari 10 kabupaten/kota di Kaltim, hanya ada satu daerah yang tidak ada masuk investasi subsektor tanaman pangan, perkebunan dan peternakan, yakni Kota Bontang. Kota tersebut lebih mengandalkan industri dan jasa.
Investasi PMDN sebesar Rp7,21 triliun antara lain dari Kabupaten Berau senilai Rp1,36 triliun, yang meningkant ketimbang tahun sebelumnya senilai Rp263,9 miliar. Kabupaten Kutai Barat sebesar Rp1,57 triliun, yang naik ketimbang tahun sebelumnya senilai Rp1,1 triliun.
Kabupaten Kutai Timur sebesar Rp1,99 triliun, yang ketimbang 2024 yang tercatat mencapai Rp1,26 triliun. Kabupaten Kutai Kartanegara sebesar Rp826,8 miliar, yang naik ketimbang tahun sebelumnya senilai Rp699,77 miliar.
“Sedangkan PMA periode Januari hingga September 2025 total sebesar Rp1,76 triliun, turun ketimbang 2024 yang tercatat Rp4,2 triliun. Namun tahun ini belum final, masih ada triwulan IV 2025 yang masih tahap penghitungan,” kata Fahmi.
PMA paling tinggi berasal dari Kabupaten Kutai Kartanegara sebesar Rp606,07 miliar. Angka tersebut turun ketimbang 2024 yang sebesar Rp2,72 triliun.
Lalu dari Kabupaten Berau Rp426,87 miliar yang mengalami kenaikan ketimbang tahun sebelumnya yang senilai Rp389,85 miliar.
PMA dari Kabupaten Kutai Timur senilai Rp297,63 miliar, turun ketimbang 2024 yang sebesar Rp429,25 miliar. Sedangkan dari Kabupaten Kutai Barat tercatat Rp246,51 miliar, turun ketimbang tahun sebelumnya yang sebesar Rp327,59 miliar.
Ia mengatakan bahwa total investasi yang masuk ke Kaltim hingga triwulan III-2025 mencapai Rp70,43 triliun, berasal dari PMDN sebesar Rp55,9 triliun dan dari PMA senilai Rp14,53 triliun.
Sedangkan target investasi sepanjang 2025 sebesar Rp76,02 triliun, sehingga ia mengaku optimistis target itu bakal terealisasi, bahkan melampaui target. Namun dirinya belum bisa memastikan berapa nilai riilnya karena semua data belum masuk.






