benuakaltim.co.id, BERAU – Dinas Pangan Kabupaten Berau terus berupaya memperkuat ketahanan pangan keluarga melalui pemberdayaan Kelompok Wanita Tani (KWT).
Analisis Ketahanan Pangan Ahli Muda, Bidang Sub Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat dalam Penganekaragaman Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal Dinas Pangan Berau, Normalina menjelaskan, pemerintah daerah menyiapkan anggaran sekitar Rp 217 juta untuk menyuplai berbagai kebutuhan pertanian bagi enam KWT yang tersebar di lima kampung-kelurahan.
Bantuan yang diberikan tidak main-main. Mulai dari bibit tanaman hortikultura seperti bayam, buncis, kangkung, hingga cabai rawit, serta peralatan pendukung seperti cangkul, paranet, polybag, hingga pompa air lengkap dengan instalasi pipanya. Selain itu, dukungan pupuk kandang dan pupuk organik cair juga diberikan untuk memastikan hasil panen maksimal.
Lebih lanjut Normalina menjelaskan, program ini merupakan evolusi dari Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) yang kini berganti nama menjadi Lapau Pangan (Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman) atau LP2SA.
“Tujuannya adalah membantu ibu-ibu, baik istri petani maupun petani perempuan itu sendiri, agar memiliki wadah berkumpul yang satu visi dan misi dalam mengembangkan pangan keluarga,” ungkapnya, Kamis (29/1/2026).
Menariknya, program ini tidak hanya memenuhi kebutuhan dapur masing-masing anggota. Di beberapa lokasi, hasil bumi yang dihasilkan justru melimpah ruah.
“Untuk konsumsi lokal di kampung sudah pasti terpenuhi. Tapi kalau panennya berlebih, mereka juga menjualnya ke kampung sebelah. Seperti di Ampen Medang dan Kayu Indah, mereka bahkan menjual terong dan timun sampai ke Biduk-Biduk hingga Tanjung Redeb,” ucapnya.
Ia melihat keberhasilan yang ada, Dinas Pangan telah membidik Kampung Ampen Medang (KWT Harapan Bersama dan Sumber Rejeki) sebagai calon kuat pilot project untuk tahun 2025 mendatang. Lokasi ini dinilai paling menonjol perkembangannya dibandingkan wilayah lain seperti Kampung Maluang, Sukam Tengah, Gunung Panjang, dan Gunung Tabur.
Dengan dukungan sarana dan prasarana (sarpras) yang memadai, diharapkan kelompok wanita tani di Berau tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi aktor utama dalam menjaga stabilitas pangan di tingkat terkecil, yakni rumah tangga. (*)
Reporter: Georgie Silalahi
Editor: Endah Agustina






