benuakaltim.co.id, BERAU– Pemerintah Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur mulai mempercepat pengembangan pariwisata perkotaan sejak 2025.
Tidak hanya berfokus pada destinasi unggulan di wilayah kepulauan, kawasan kota yang memiliki nilai sejarah dan budaya kini kembali dibangkitkan, salah satunya Teluk Bayur.
Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Disbudpar Berau, Syamsiah Nawir, melalui Staf Teknis sekaligus Pengawas Kepariwisataan, Andi menyampaikan, Teluk Bayur dipilih karena memiliki potensi luar biasa dari sisi sejarah dan budaya.
“Teluk Bayur itu punya sejarah panjang. Ada peninggalan tambang-tambang Belanda sejak 1920-an. Potensi ini yang kami angkat kembali,” ujarnya, Jumat (30/1/2026).
Ia menjelaskan, sebelum dilakukan pembangunan fisik, Disbudpar terlebih dahulu menyusun master plan pengembangan wisata Kota Teluk Bayur pada 2024. Dokumen tersebut disusun secara komprehensif dengan berbagai kajian kepariwisataan.
“Master plan selesai akhir 2024 dan langsung dieksekusi pada 2025. Jadi akselerasinya cukup cepat,” ungkapnya.
Pada tahap pertama, Disbudpar mengalokasikan anggaran sekitar Rp 4 miliar yang dinilai memadai untuk pengembangan awal. Anggaran tersebut dibagi ke dalam tiga fokus utama. Pertama, pembangunan Gapura Kawasan Teluk Bayur dengan anggaran lebih dari Rp1 miliar. Gapura tersebut dibangun baru, bukan revitalisasi.
“Gapura ini penting sebagai penegasan bahwa Teluk Bayur adalah kawasan bersejarah dan situs cagar budaya. Ini juga menjadi simbol martabat kawasan wisata unggulan,” ucapnya.
Kedua, revitalisasi Gedung Bioskop Teluk Bayur dengan anggaran sekitar Rp1,9 miliar. Bangunan bersejarah yang kondisinya sempat memprihatinkan itu kini dibenahi secara menyeluruh tanpa mengubah struktur aslinya.
“Kami benahi drainase, rembesan air, pengecatan, dan membangun dinding keliling agar situs cagar budaya ini terlindungi. Targetnya, fungsi bioskop dikembalikan seperti semula, sebagai tempat pertunjukan film, seni, dan budaya,” bebernya.
Ke depan, gedung bioskop tersebut direncanakan menjadi pusat aktivitas subsektor ekonomi kreatif, khususnya perfilman, termasuk festival dan kegiatan komunitas. Ketiga, revitalisasi Museum Batu Bara yang kini ditempatkan di gedung eks Kantor Camat Teluk Bayur.
Sebelumnya, museum direncanakan berada di Rumah Bola. Namun hasil kajian tenaga ahli merekomendasikan agar Rumah Bola dikembalikan ke fungsi aslinya sebagai ballroom.
“Rumah Bola itu dulunya ballroom. Jadi fungsinya kami kembalikan sebagai ruang kegiatan, bisa untuk pertemuan, acara, bahkan kafe,” tuturnya.
Sementara, museum dilakukan secara bertahap karena keterbatasan anggaran dan standar ketat museum. Saat ini, baru satu ruangan yang dibenahi lengkap dengan toilet bertema Belanda, miniatur kereta tambang, dan diorama tambang bawah tanah.
Ia mengakui adanya kritik dari masyarakat yang menilai perubahan belum terlihat signifikan. Namun, pihaknya menegaskan, revitalisasi bangunan cagar budaya harus mengikuti aturan dan undang-undang yang berlaku.
“Kami sangat berhati-hati. Bahkan kami didampingi pejabat fungsional dari Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan. Secara bentuk luar tidak boleh diubah, tapi interior kami poles agar lebih informatif dan menarik,” tegasnya.
Disbudpar menargetkan museum dan gedung bioskop dapat dibuka dan diluncurkan sebelum akhir 2026. Sementara gapura kawasan telah rampung dan tengah dalam tahap evaluasi.
Ia berharap masyarakat Teluk Bayur dapat mendukung dan turut menjaga kawasan tersebut, sekaligus memanfaatkan peluang ekonomi yang muncul.
“Kalau museum dan bioskop sudah buka, kawasan akan ramai. Masyarakat bisa berkreasi, UMKM tumbuh, efek ekonomi langsung bisa dirasakan,” pungkasnya. (*)
Reporter: Georgie Silalahi
Editor: Endah Agustina






