Dana Karbon Ratusan Juta, Bupati Sri Juniarsih Ingatkan Kades Tak Salah Kelola Anggaran

MUSRENBANG: Suasana Musrenbang Kecamatan Gunung Tabur saat Bupati Berau Sri Juniarsih Mas memaparkan prioritas pembangunan daerah di hadapan para kepala kampung dan pemangku kepentingan. (FOTO: GEORGIE/BENUAKALTIM)

benuakaltim.co.id, BERAU– Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, memberikan pesan menohok kepada seluruh Kepala Kampung di wilayah Kecamatan Gunung Tabur dan sekitarnya.

Orang nomor satu di Bumi Batiwakkal ini meminta para pemimpin desa untuk berhenti bersikap manja dan terlalu bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Dalam arahannya, Sri Juniarsih menegaskan, keterbatasan anggaran saat ini seharusnya menjadi pemantik inovasi, bukan alasan untuk terus mengeluh. Ia menyoroti banyaknya aspirasi pembangunan fisik yang dianggapnya belum menjadi prioritas mendesak.

“Kita jangan terbiasa dimanjakan oleh APBD sehingga selalu berada di zona nyaman. Ketika dicoba dengan kesulitan (anggaran), kita harus berinovasi dan berkreasi. Kerja keras untuk mencapai keinginan kita,” ungkapnya, Kamis (19/2/2026).

Baca Juga :  Kerap Dilanda Banjir, Kepala Kampung Long Lanuk Minta Fasilitas Pustu Baru

Bupati perempuan pertama di Berau ini juga sempat menyentil usulan-usulan pembangunan infrastruktur yang dinilai menghabiskan anggaran besar namun manfaatnya belum krusial. Salah satunya adalah pembangunan turap atau dinding penahan tanah di pinggir sungai yang memakan biaya hingga puluhan miliar rupiah.

“Infrastruktur dasar seperti air minum, listrik, Wi-Fi, sekolah, dan kesehatan itu wajib. Tapi kalau yang Bapak-bapak sampaikan tadi seperti turap, itu ibaratnya masih ‘sunnah’. Kita harus efisiensi karena anggaran terbatas,” ujarnya.

Ia menambahkan, daripada membangun turap beton yang mahal, ia lebih menyarankan penanaman mangrove di sepanjang tepian sungai. Langkah ini bukan tanpa alasan, melainkan demi menjaga kelestarian lingkungan dan keberlanjutan Dana Karbon.

Baca Juga :  Sambut Ramadan, Ratusan Warga Berau Pilih Gowes Malam 

Sri Juniarsih mengingatkan, kampung-kampung di Berau saat ini sudah mendapatkan guyuran Dana Karbon yang nilainya mencapai ratusan juta rupiah per desa, di luar Alokasi Dana Kampung (ADK) yang berkisar antara Rp1,2 hingga Rp3 miliar.

“Jangan lagi mengeluh. Bapak-bapak semua dapat Dana Karbon, ada yang sampai Rp345 juta. Jaga konservasinya, tanami mangrove. Kalau kita semen (turap) semua, nanti Dana Karbonnya hilang karena dianggap merusak lingkungan. Padahal itu lumayan untuk ekonomi masyarakat,” ucapnya.

Selain soal infrastruktur, Bupati juga mendorong desa mandiri untuk cerdas mengelola sampah. Ia mengungkapkan, Pemkab Berau sedang membangun komunikasi dengan pihak ketiga untuk membeli sampah daur ulang dari masyarakat.

Baca Juga :  Pemkab Berau Godok Pengembangan Lokasi Wisata, Tiga Zona Destinasi Jadi Prioritas

“Sekarang sampah bernilai uang. Sampah organik bisa jadi pupuk, yang anorganik seperti plastik dan besi bisa dijual. Bahkan kulit pisang bisa diolah jadi briket untuk pengganti gas elpiji. Ini yang namanya inovasi desa mandiri,” tuturnya.

Menutup arahannya, Sri Juniarsih memberikan peringatan keras kepada para Kepala Kampung agar berhati-hati dalam mengelola anggaran yang besar tersebut. Ia tak ingin ada bawahannya yang tersangkut kasus hukum di akhir masa jabatan.

“Jangan sampai ada Kepala Kampung yang kena masalah hukum. Lakukan pendampingan dengan Kejaksaan, konsultasi dengan Camat. Jangan gegabah. Kita harus kuat melewati masa sulit ini bersama-sama,” pungkasnya. (*)

Reporter: Georgie Silalahi

Editor: Endah Agustina

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *