Vakum 15 Tahun, Porseni Ikat Berau Digelar Kembali

Porseni Ikat Berau 2025. (ISTIMEWA)

benuanta.co.id, TANJUNG SELOR– Ribuan warga yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Toraja (IKAT) se-Kabupaten Berau berpartisipasi dalam Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) yang kembali dihidupkan setelah vakum selama kurang lebih 15 tahun. Acara ini resmi dibuka pada Sabtu (8/11/2025) lalu dan akan berlangsung hingga 15 November 2025.

Ketua IKAT Berau, Yan Saranga, mengungkapkan antusiasme peserta sangat tinggi. Menurutnya, Porseni kali ini adalah yang pertama digelar kembali dan menjadi yang paling ramai serta meriah.

Baca Juga :  PLN Berau Prediksi Beban Puncak Listrik Tembus 47 MW Jelang Ramadan

“Peserta ini ribuan. Kami dari 28 kerukunan dan 18 ranting, hampir semua terlibat,” ujar Yan Saranga Minggu (9/11/2025).

Yan menjelaskan, Porseni ini bertujuan utama sebagai ajang silaturahmi untuk mempererat kebersamaan dan kekompakan warga IKAT di perantauan. “Harapan kami ini kan ajang silaturahmi untuk kebersamaan warga ikat di perantauan,” katanya.

Ada total enam cabang yang dipertandingkan, mencakup bidang olahraga dan seni. Untuk kategori seni meliputi paduan suara, tari kreasi Toraja, dan solo. Sementara untuk olahraga mempertandingkan futsal, voli putra-putri, dan sepak takraw.

Baca Juga :  Pembangunan Infrastruktur Wisata Berau Terkendala Geografis dan Keamanan Perangkat

Rangkaian perlombaan akan dilaksanakan di tiga lokasi berbeda, yaitu di GOR, Lapangan Batiwakal, dan Gereja Toraja. Yan menambahkan, fokus utama kegiatan ini adalah kebersamaan, bukan besarnya hadiah.

“Hadiahnya tidak seberapa, ini kan kebersamaan, kekompakan,” tuturnya.

Pendanaan Porseni ini, lanjutnya, bersumber dari kolektif anggota serta donatur. “Kami kumpul dari iuran setiap kerukunan dan ranting, kemudian ada donatur khusus baik internal ikat maupun eksternal. Beberapa perusahaan juga ikut membantu,” jelasnya.

Baca Juga :  Atasi Masalah Sampah di Lokasi Wisata, PUPR Kebut Pembangunan TPS3R

Kegiatan ini mengusung slogan “Misak kada di potu, pantan kada di pomate,” yang memiliki arti “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh,” sebagai semangat untuk terus menjalin kerukunan dan memegang teguh adat istiadat. (*)

Reporter:Georgie Silalahi

Editor: Endah Agustina

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *