Syarifatul Sya’diah Kritik Ego Sektoral Pembangunan Kaltim, Desak Sinkronisasi Provinsi-Kabupaten

Anggota Komisi III DPRD Kalimantan Timur, Syarifatul Sya'diah. (ISTIMEWA)

benuakaltim.co.id, BERAU– Anggota Komisi III DPRD Kalimantan Timur, Syarifatul Sya’diah, melontarkan kritik pedas terkait pola pembangunan di Benua Etam yang dinilai masih ego sektoral.

Politisi perempuan dari Fraksi Golkar ini, menyoroti minimnya harmonisasi antara program pemerintah provinsi dengan pemerintah kabupaten kota.

Syarifatul mengungkapkan kegelisahannya terkait program-program yang seringkali tumpang tindih sehingga penggunaan anggaran tidak efisien. Ia menegaskan, sinkronisasi sejak tahap perencanaan adalah harga mati jika ingin pembangunan tepat sasaran.

Baca Juga :  DPRD Usulkan Berau Jadi Daerah Istimewa ke Pemerintah Pusat

“Selama ini, program provinsi terkesan jalan sendiri, begitu juga dengan kabupaten kota. Padahal ini seharusnya bisa disinergikan sejak awal perencanaan,” tegas Syarifatul, Kamis (12/2/2026).

Sebagai wakil rakyat dari Dapil 6 yakni Berau, Kutai Timur, dan Bontang, Syarifatul mendesak agar rapat koordinasi (rakor) berkala antara Gubernur, Bappeda, dan DPRD menjadi agenda wajib.

Menurutnya, langkah ini sangat krusial untuk menghindari duplikasi anggaran di tengah keterbatasan fiskal daerah.

Baca Juga :  Butuh Rp800 Miliar, Pembangunan Jalan Penghubung di Segah Terkendala Anggaran

“Rakor berkala akan sangat membantu untuk memastikan bahwa program yang ada ini bisa sinkron dengan kebutuhan daerah. Jadi pembangunan bisa lebih efektif dan efisien,” jelasnya.

Tak hanya soal koordinasi, Syarifatul juga menyoroti program unggulan Pemerintah Provinsi Kaltim seperti Gratis Pol dan Jos Pol. Ia mengingatkan, agar program-program tersebut tidak hanya menjadi ‘macan kertas’ tanpa dukungan nyata dari berbagai sektor, termasuk swasta.

Baca Juga :  Efisiensi Anggaran, Dinas TPHP Berau Maksimalkan Dukungan APBN untuk Petani

Ia mendorong adanya kolaborasi lintas sektor agar janji kesejahteraan yang diusung pemerintah benar-benar dirasakan oleh masyarakat, terutama bagi mereka yang berada di wilayah pelosok.

“Perlu kolaborasi dari semua pihak agar pelaksanaan ini bisa berjalan optimal. Jangan sampai hanya jadi program unggulan di atas kertas,” pungkasnya. (*)

Reporter: Georgie Silalahi

Editor: Endah Agustina

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *