benuakaltim.co.id, BERAU – Ribuan warga Muhammadiyah di Kabupaten Berau hari ini resmi merayakan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah dengan penuh sukacita.
Pelaksanaan salat Id yang dipusatkan di sejumlah titik strategis di Kabupaten Berau terpantau berlangsung tertib pada Jumat (20/3/2026) pagi.
Gema takbir bersahutan, menandai berakhirnya bulan suci Ramadan bagi warga Muhammadiyah di sana.
Lantas, apa yang mendasari penetapan ini, usut punya usut, langkah ini merupakan instruksi langsung dari Maklumat Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah yang berlaku serentak bagi seluruh kadernya di seantero Indonesia.
Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Berau menegaskan, perayaan hari ini adalah buah dari komitmen organisasi dalam memegang teguh metode hisab hakiki wujudul hilal sebagai penentu kalender Islam.
“Alhamdulillah, hari ini, 20 Maret 2026, kami segenap warga Muhammadiyah Kabupaten Berau telah menunaikan salat Idulfitri 1447 Hijriah,” ungkap Sekretaris PDM Berau, Dody Wisono, dengan nada syukur usai ibadah Jumat (20/3/2026).
Dody menjelaskan lebih lanjut bahwa keseragaman waktu di daerah bukan tanpa alasan.
Hal tersebut merupakan komando tegak lurus yang wajib dijalankan oleh seluruh pengurus di tingkat daerah.
“Pelaksanaan hari ini sesuai dengan Maklumat PP Muhammadiyah. Jadi, di seluruh penjuru Indonesia, Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada 20 Maret 2026,” imbuhnya memperjelas situasi.
Menariknya, meski ada potensi perbedaan tanggal Lebaran dengan pemerintah atau ormas Islam lainnya, PDM Berau justru memberikan respons yang sangat menyejukkan terkait hal tersebut.
Pihaknya mewanti-wanti agar perbedaan metode penetapan awal bulan Hijriah tidak sampai menggores kerukunan antarwarga yang selama ini sudah terjalin erat.
“Kami sangat menghargai jika ada keputusan berbeda terkait penetapan 1 Syawal. Apa pun perbedaannya, kita tetap satu dan wajib saling menghormati,” tegas Dody dengan penuh keyakinan.
Lebih jauh, ia menitipkan pesan mendalam agar euforia kemenangan Idulfitri tidak melunturkan sikap toleransi tinggi yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia.
Baginya, perbedaan justru menjadi panggung untuk mempererat tali ukhuwah Islamiyah dan persaudaraan universal tanpa perlu ada aksi saling menyudutkan di media sosial maupun dunia nyata.
“Insya Allah, meski berbeda, tidak lantas membuat kita saling menyalahkan. Kita tetap jaga toleransi, baik kepada sesama muslim maupun saudara kita yang non-muslim,” tutupnya mengakhiri pembicaraan. (*)
Reporter: Georgie Silalahi
Editor: Ramli






