benuakaltim.co.id, SAMARINDA – Proyek pembangunan terowongan di Kota Samarinda yang menelan anggaran ratusan miliar rupiah kembali menjadi sorotan. Kali ini, persoalan muncul dari aliran air limpasan di area inlet terowongan yang berada di Jalan Sultan Alimuddin dan dilaporkan mengarah hingga ke lingkungan SMP Negeri 9 Samarinda.
Keluhan tersebut diterima Komisi III DPRD Samarinda setelah adanya laporan bahwa air dari kawasan proyek berpotensi mengalir langsung ke area sekolah saat hujan deras.
Kondisi itu dinilai berisiko mengganggu aktivitas belajar mengajar serta berpotensi berdampak pada lingkungan sekitar.
Ketua Komisi III DPRD Samarinda, Deni Hakim Anwar, menjelaskan posisi SMP Negeri 9 yang berada cukup dekat dengan sisi inlet terowongan membuat kawasan tersebut rawan terdampak limpasan air, terutama ketika curah hujan tinggi.
Menurutnya, jika tidak diantisipasi dengan sistem drainase yang memadai, air dari area proyek bisa langsung masuk ke lingkungan sekolah maupun permukiman warga di sekitarnya.
“Kami sudah sampaikan ke dinas PUPR untuk memastikan dibuat drainase tambahan dari sisi inlet, supaya air itu tidak masuk ke fasilitas sekolah maupun rumah warga yang ada di sana,” tegas Deni, Jumat (6/3/2026).
Ia menilai penanganan persoalan tersebut harus segera dilakukan agar tidak menimbulkan masalah baru di tengah pembangunan proyek infrastruktur besar yang saat ini sedang berjalan.
Sementara itu, Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Samarinda, Darmadi, mengatakan pihaknya akan terlebih dahulu melakukan pengecekan langsung ke lokasi guna memastikan penyebab aliran air tersebut.
Menurutnya, ada kemungkinan limpasan air terjadi karena saluran drainase yang ada di sekitar lokasi mengalami penyumbatan atau kotor sehingga aliran air tidak berjalan optimal.
“Mungkin sementara kalau memang karena salurannya kotor, bisa dibersihkan dulu,” ujar Darmadi, Sabtu (7/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa secara perencanaan sebenarnya sistem drainase di kawasan tersebut sudah tersedia untuk mengendalikan aliran air sekaligus mengurangi potensi banjir. Namun demikian, pihaknya tetap membuka kemungkinan adanya penyesuaian atau penanganan tambahan jika kondisi di lapangan memang membutuhkan.
“Salurannya sebenarnya sudah ada untuk mengatasi banjir di sana, tinggal menyesuaikan dengan rencana dan juga anggaran kita,” pungkasnya. (*)
Reporter: Aditya Setiawan
Editor: Ramli






