benuakaltim.co.id, BERAU – Pemerintah Kabupaten Berau terus mendorong peningkatan produksi dan kualitas komoditas unggulan daerah, khususnya kakao dan kelapa dalam, yang dinilai memiliki keterkaitan langsung dengan sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat.
Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Berau, Lita Handini menjelaskan, Kakao Berau saat ini disebut telah memiliki daya saing internasional.
“Produk kakao lokal bahkan telah dikenal hingga pasar Eropa dan Amerika,” ungkapnya, Selasa (3/2/2026).
Dalam waktu dekat, kata dia, Berau direncanakan akan mengekspor sekitar 10 ton kakao ke Prancis, seiring telah diperolehnya sertifikat Indikasi Geografis dari Kementerian Hukum dan HAM.
“Indikasi geografis ini menjadi jaminan mutu, sehingga proses penanaman dan pengolahan kakao terus diawasi agar kualitasnya tetap konsisten,” ucapnya.
Lebih lanjut, sambung dia, pemerintah daerah juga telah memberikan dukungan kepada petani berupa bantuan alat fermentasi dan pengering. “Namun, tantangan besar muncul akibat banjir yang melanda sentra kakao di wilayah bantaran sungai pada 2024 hingga 2025,” ujarnya
Lita juga menjelaskan, efek kondisi banjir berkepanjangan menyebabkan banyak kebun kakao rusak dan tidak dapat ditanami kembali. “Sebagai solusi, Pemkab Berau mendorong relokasi sentra kakao ke wilayah yang lebih tinggi dan bebas dari risiko banjir, khususnya ke kawasan pegunungan,” bebernya.
Di sisi lain, tingginya harga kakao di pasaran mencapai Rp300 ribu hingga Rp350 ribu per kilogram, juga menjadi perhatian. Lita menegaskan, kenaikan harga bahan baku dinilai berpotensi berdampak pada harga produk olahan kakao, terutama untuk sektor kuliner dan minuman di kawasan wisata.
“Kalau harga bahan baku terlalu tinggi, dikhawatirkan produsen mengurangi komposisi kakao, sehingga rasa dan kualitas produk bisa menurun,” bebernya.
Maka dari itu pemerintah mengingatkan agar pelaku usaha tidak menjual kelapa muda dengan harga terlalu tinggi, karena dapat menurunkan minat wisatawan. “Kalau wisatawan datang tapi harga kelapa terlalu mahal, mereka bisa enggan membeli bahkan enggan kembali,” kata Lita Handini.
Dalam upaya pengembangan jangka panjang, menurutnya Pemkab Berau juga telah mengusulkan pengembangan lahan perkebunan kakao dan kelapa dalam masing-masing seluas 100 hektare. Usulan tersebut mendapat respons positif dari kementerian terkait, bahkan dengan potensi pengembangan hingga 200 hektare untuk masing-masing komoditas.
“Ini perlu kita kawal bersama agar benar-benar bisa berjalan dan memberikan manfaat bagi petani dan daerah,” pungkasnya. (*)
Reporter: Georgie Silalahi
Editor: Endah Agustina






