Dinkes Kaltim Perkuat Standar Keamanan MBG, Libatkan BGN dan UNICEF Latih Pelatih Regional

Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin. (FOTO: Aditya Setiawan)

benuakaltim.com, SAMARINDA – Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur terus memperkuat standar keamanan pangan dan kualitas gizi dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui pelatihan intensif bagi para pelatih tingkat regional.

Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin, menegaskan bahwa program MBG bukan sekadar agenda distribusi makanan di sekolah, melainkan investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia.

“Ketika kita berbicara tentang MBG di sekolah, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang investasi kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas generasi masa depan,” kata Jaya di Samarinda, Jumat (27/2).

Baca Juga :  Gubernur Kaltim Batalkan Mobil Dinas Rp8,5 Miliar, Aspirasi Publik Pertimbangan Utama

Penguatan kapasitas ini dilaksanakan secara sinergis bersama Badan Gizi Nasional (BGN) dan berkolaborasi dengan UNICEF, sebagai upaya percepatan perbaikan status gizi masyarakat secara menyeluruh.

Menurut Jaya, keberhasilan program strategis nasional tersebut tidak hanya diukur dari konsistensi ketersediaan porsi makanan, tetapi sangat bergantung pada pengelolaan keamanan pangan harian yang ketat.

“Sebab, menu makanan sarat gizi yang tidak dikelola dengan prinsip kebersihan prima justru berpotensi memunculkan berbagai risiko gangguan kesehatan baru bagi anak-anak sekolah,” tegasnya.

Sebaliknya, makanan yang aman namun tidak memenuhi standar kebutuhan nutrisi juga dinilai tidak akan mampu mengoptimalkan fase penting tumbuh kembang peserta didik.

Baca Juga :  Wagub Kaltim Ajak Masyarakat Terapkan Prinsip 5J dan 3D untuk Jaga Rupiah

Melalui pelatihan lintas sektor ini, seluruh peserta ditargetkan mampu bertransformasi menjadi agen pelatih yang kompeten dalam mengawasi mutu layanan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah kerja masing-masing.

Karakteristik geografis Pulau Kalimantan yang luas dengan tantangan infrastruktur di sejumlah daerah terpencil turut menjadi perhatian. Setiap pelatih diharapkan mampu mengadaptasikan standar nasional dengan kondisi lapangan yang beragam tanpa mengurangi mutu layanan.

Selain penyediaan makanan bergizi, edukasi gizi bagi siswa juga dinilai fundamental agar anak usia sekolah memiliki literasi kuat tentang perilaku hidup bersih dan sehat.

Baca Juga :  Pembatalan Beli Mobdin Rp8,5 M Kembali ke Kas Daerah, Pemprov Tunggu Jawaban Penyedia

Kolaborasi antarlembaga, mulai dari dinas pendidikan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), hingga kantor kementerian agama, dirancang untuk memastikan tidak ada celah dalam pengawasan mutu program.

“Berbekal konsolidasi tenaga pelatih bersertifikat ini, kami meyakini peta jalan strategis dalam menciptakan generasi unggul berdaya saing global untuk menyongsong Indonesia Emas 2045 semakin kokoh terbangun,” tutup Jaya. (*)

Reporter: Aditya Setiawan

Editor: Ramli

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *