benuakaltim.co.id, BERAU– Jalur peredaran narkotika jenis ganja di wilayah Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, kian memanfaatkan celah teknologi. Polisi membeberkan mayoritas barang haram tersebut kini diselundupkan dari luar pulau melalui jasa pengiriman barang alias belanja online.
Hal ini diungkapkan langsung oleh Kepala Satuan Reserse Narkoba (Kasat Resnarkoba) Polres Berau, AKP Agus Priyanto. Selama masa jabatannya, pihak kepolisian setidaknya sudah berhasil menggagalkan beberapa kali upaya penyelundupan dengan modus tersebut.
“Ya alhamdulillah selama saya menjabat Kasat Narkoba, ini kami beberapa kali, dua kali kah tiga kali mengungkap, tapi mayoritas itu online, kiriman via online sih,” ujar Agus saat memberikan keterangan kepada media, Jumat (26/6/2026).
Berdasarkan hasil pemetaan dari kasus-kasus yang berhasil diungkap, pasokan daun ganja tersebut diketahui bukan berasal dari wilayah lokal, melainkan dikirim dari kota-kota besar di luar pulau Kalimantan.
“Mayoritas juga dari luar Kaltim, luar Kalimantan. Mayoritas belinya Jakarta, Sumatera, gitu,” jelasnya.
Namun, Agus mengakui petugas di lapangan kerap menghadapi kendala saat melakukan pelacakan (tracing) lebih dalam. Pasalnya, para pelaku menggunakan jaringan yang terputus dengan memanfaatkan situs-situs tidak resmi di internet yang sulit dilacak keasliannya.
“Cuman kalau kita telusuri akhirnya itu juga anu, apa, situs bodong juga. Maksudnya website-website yang tidak bisa kita telusuri karena setelah kita cek ternyata alamat yang pengirimnya juga kadang tidak sesuai gitu, kalau untuk ganja sendiri,” beber Agus.
Berbeda dengan ganja yang kerap masuk via paket kiriman online, Agus bersyukur hingga saat ini belum ditemukan adanya pabrik rumahan (home industry) pembuatan narkoba jenis sabu maupun ekstasi (inex) di wilayah hukum Polres Berau.
“Sedangkan untuk mungkin apa, home industry ya, terkait untuk narkoba industri terutama sabu ataupun inex, Alhamdulillah dan juga mudah-mudahan jangan sampai, belum saya temukan dan mudah-mudahan tidak ketemulah arah ke situ,” ungkapnya.
Untuk saat ini, wilayah Berau masih dikategorikan sebagai daerah tujuan pasar komoditas haram tersebut, bukan sebagai produsen. Sebagian besar pasokan narkoba, khususnya sabu yang beredar di Berau, justru diduga kuat dipasok dari negara tetangga.
“Sementara saat sekarang ini di Berau ini masih mayoritas pada barang terkait barang penjualan aja. Maksudnya istilahnya apa ya, pangsa pasar saja. Tapi kalau untuk produk dalam negeri Berau sendiri enggak ada. Mayoritas semua itu dari negara sebelah, di Malaysia sana,” tegasnya.
Guna mengantisipasi dan memutus rantai pasokan narkoba yang masuk ke wilayah Bumi Batiwakkal, Polres Berau menerapkan strategi khusus. Menariknya, polisi sengaja menghindari jadwal patroli yang bersifat rutin atau terjadwal tetap. Polisi memilih menggunakan sistem patroli insidental atau razia dadakan demi mengelabui para pengedar yang kerap menaruh mata-mata di lapangan.
“Itu kita upayakan juga untuk upaya pencegahan masuk ke Berau. Kita sesekali tanpa bukan disebut patroli rutin. Kalau patroli rutin khawatirnya terbaca oleh mereka-mereka yang akan masukkan barang di Berau. Kita insidentil, maksudnya di sini ya secara dadakan-dadakan,” pungkas Agus. (*)
Reporter: Georgie Silalahi
Editor: Endah Agustina






