Disbudpar Berau Beberkan Terbatasnya Fasilitas di Pulau Wisata

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Yudha Budisantosa. (FOTO: GEORGIE/BENUAKALTIM)

benuakaltim.co.id, BERAU – Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Yudha Budisantosa, membeberkan sejumlah persoalan mulai minimnya fasilitas dan air bersih hingga gangguan anjing liar yang kerap dikeluhkan oleh wisatawan asing.

“Sebagian besar wisatawan berwisata di atas kapal (live on board) dan jarang melakukan aktivitas di luar kapal, sehingga dinilai minim memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat maupun pemerintah daerah,” bebernya, Rabu (14/10/2026).

Baca Juga :  Resahkan Warga, Lapak Sabung Ayam 'Siluman' di Tanjung Redeb Akhirnya Diratakan Petugas

Lebih lanjut, kata dia, adanya penolakan dari pihak resor lantaran objek dan bentuk penyelaman yang sama dengan LOB memicu kekhawatiran konflik, mengingat hingga kini belum ada peraturan daerah yang secara khusus mengatur operasional LOB.

“Wisatawan asing maupun pemandu yang menyelam terlalu lama kerap mengalami masalah pada paru-paru dan wajib menjalani terapi di chamber (ruangan udara bertekanan tinggi),” bebernya.

Sayangnya menurut Yudha, ketiadaan dokter spesialis khusus di fasilitas chamber yang tersedia sempat menghambat penanganan medis darurat. Selain itu, keberadaan air bersih juga menjadi sorotan, terlebih di lokasi wisata.

Baca Juga :  Aturan BPH Migas Ketat, Dishub Berau Tak Bisa Terbitkan Rekomendasi BBM Subsidi Nelayan

“Dan dari berbagai kampung di Maratua, hanya Kampung Teluk Harapan yang terbukti memiliki sumber air bersih berdasarkan hasil kajian,” ungkapnya.

Sebab bagi dia air bersih ini menjadi kunci utama untuk kelangsungan hidup warga sekaligus sektor pariwisata bahari di tengah ancaman abrasi.

Baca Juga :  Terkendala Jaringan Pipa dan Pengolahan, Embung Maratua Belum Salurkan Air ke Masyarakat

“Kemudian masalah anjing liar yang berkeliaran hingga ke area resor dan permukiman turut menjadi keluhan tak terduga yang disampaikan oleh para wisatawan asing, sehingga mendesak untuk segera dicarikan solusi,” tuturnya.

Ia menegaskan pengembangan pariwisata bahari tidak akan berjalan maksimal tanpa adanya dukungan penuh dari lintas sektor, asosiasi, serta regulasi tegas yang melindungi kenyamanan wisatawan sekaligus kelestarian alam. (*)

Reporter: Georgie Sihaloho

Editor: Endah Agustina

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Are you human? Please solve:Captcha