DPRD Berau Dukung Pengelolaan Sampah Berbasis AI, Sisa Olahan Jadi Pengganti Batubara

Ketua DPRD Kabupaten Berau, Dedy Okto Nooryanto. (ISTIMEWA)

benuakaltim.co.id, BERAU– Masalah pengelolaan sampah di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, tampaknya akan segera menemui titik terang lewat terobosan teknologi mutakhir. Tidak main-main, sistem pengelolaan sampah masa depan ini nantinya bakal berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan dioperasikan oleh robot.

Rencana canggih ini mendapat respons positif dan dukungan penuh dari Ketua DPRD Kabupaten Berau, Dedy Okto Nooryanto. Menurutnya, teknologi ini menjadi angin segar bagi penanganan sampah di Bumi Batiwakkal.

“Sangat bagus ya, pemerintah daerah kalau memang ini terlaksana ini sangat membantu sampah-sampah kita yang ada di Kabupaten Berau. Karena memang alatnya ini saya lihat canggihlah ya,” ujar Dedy, Selasa (30/6/2026).

Keunggulan utama dari mesin berbasis AI ini adalah kemampuannya dalam memilah berbagai jenis sampah secara otomatis, meskipun kondisinya tercampur aduk saat masuk ke dalam mesin.

Baca Juga :  45 Personel Polres Berau Naik Pangkat, Kapolres Tekankan Amanah dan Tanggung Jawab

Beberapa keunggulan teknologi pengolah sampah tersebut di antaranya, pemilahan otomatis yang mana mesin mampu memisahkan antara sampah basah, sampah plastik, botol, hingga kaca. Lalu proses pengeringan kilat yang memakan waktu sekitar 1 jam.

Teknologi lainnya minim tenaga manusia, karena digerakkan oleh sistem robotik AI yang sudah terprogram, mesin raksasa ini hanya memerlukan 1 hingga 2 orang operator saja untuk menghidupkan dan mengawasi jalannya mesin. Keunggulan lain dari mesin ini juga ramah lingkungan, proses ini diklaim nihil limbah negatif dan tidak membawa dampak buruk bagi lingkungan sekitar.

Baca Juga :  Permudah Konektivitas ke Pulau Wisata, Penerbangan Langsung Surabaya-Berau Kembali Dibuka per 2 Juli

Bukan sekadar dihancurkan, output atau hasil akhir dari pemrosesan sampah ini justru memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Dedy menjelaskan sisa sampah yang tidak terpakai akan diubah menjadi pupuk organik. Hebatnya lagi, mesin ini juga mampu memproduksi material pengganti batubara.

“Dia menghasilkan juga semacam bahan pengganti batu bara yang bisa dianukan (disuplai) ke PLTU. Nah, itu kan bagus juga. Jadi kan dia bisa mungkin dijual ke PLTU, PLTU beli dengan harga murah karena punya pemerintah juga,” jelas Dedy optimis.

Pada tahap awal wacana ini, sistem pengelolaan sampah modern tersebut direncanakan akan melayani 4 kecamatan terlebih dahulu, yaitu Kecamatan Tanjung Redeb, Kecamatan Gunung Tabur, Kecamatan Sambaliung dan Kecamatan Teluk Bayur

Baca Juga :  Modus Baru Penyelundupan Ganja di Berau, Pelaku Gunakan Sistem Belanja Online 

Kendati demikian, target jangka panjangnya adalah membangun sistem yang terintegrasi agar mampu menjangkau seluruh atau 13 kecamatan yang ada di Kabupaten Berau. Pemerintah daerah bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) nantinya tinggal merumuskan sistem penjemputan sampah dari tiap kecamatan.

Terkait pendanaan dan realisasinya, kesepakatan awal telah ditandatangani untuk melibatkan kontribusi perusahaan-perusahaan swasta di Berau melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR).

Dedy mengingatkan agar kepala DLHK dan pemerintah daerah mengkaji regulasi ini dengan matang agar pemanfaatan dana CSR berjalan sesuai koridor hukum yang berlaku.

“Jangan sampai salah nanti masukannya,” pungkasnya. (*)

Reporter: Georgie Silalahi

Editor: Endah Agustina

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Are you human? Please solve:Captcha