Tangkal Dampak Gadget, Komunitas Baca Berau Kenalkan Buku Cerita Anak Bergambar Berbasis Budaya Lokal

PENGENALAN: Pengenalan buku cerita anak bergambar berbasis budaya lokal di Kabupaten Berau. (ISTIMEWA)

benuakaltim.co.id, BERAU —Masifnya penggunaan gawai (gadget) dan paparan budaya populer global di kalangan anak-anak, khususnya di Kabupaten Berau, telah menimbulkan kekhawatiran serius. Anak-anak kini semakin berjarak dengan buku bacaan berkualitas dan mulai melupakan warisan budaya lokal tempat mereka tumbuh.

Menanggapi fenomena tersebut, Founder Komunitas Literasi Gerobook Berau, Risna Herjayanti, bersama para pegiat literasi, budayawan, dan masyarakat setempat, mengambil langkah nyata melalui peluncuran program dan festival budaya kreatif.

“Dokumentasi berbentuk buku tentang Objek Pemajuan Kebudayaan Berau masih sangat minim, dan cerita lokal sebagian besar masih diwariskan secara lisan,” ungkap Risna dalam keterangan tertulis terkait program Festival BaBaDa Kamis (8/10/2026).

Baca Juga :  Marak Baliho Liar dan Kadaluwarsa, Satpol PP Berau Tertibkan Reklame di Empat Kecamatan

Kata dia, Kabupaten Berau dikenal memiliki kekayaan Objek Pemajuan Kebudayaan yang luar biasa karena dihuni oleh tiga suku asli, Suku Banua, Bajau, dan Dayak, serta berbagai suku pendatang.

“Mulai dari tradisi lisan, situs bersejarah seperti Museum Batiwakkal dan Keraton Sambaliung, kesenian tari tradisional, kuliner khas seperti Ancur Paddas hingga Kue Sarang Semut, hingga pesta adat yang meriah,” bebernya.

Sayangnya, bagi dia kekayaan tersebut belum banyak terdokumentasikan ke dalam media bacaan anak. “Buku cerita anak bergambar yang beredar di sekolah maupun perpustakaan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) saat ini masih bisa dihitung dengan jari,” jelasnya.

Baca Juga :  Gandeng 135 Tenant, Persiapan Berau Expo 2026 Sudah 80 Persen

Sebab menurutnya melalui gerakan Festival BaBaDa Tumbuh & Bertemu yang mengusung Program Penulisan Buku Cerita Anak Bergambar Berbasis Objek Pemajuan Kebudayaan, Komunitas Gerobook Berau bertekad mengubah warisan budaya tersebut menjadi bahan bacaan yang edukatif, hangat, dan dekat dengan dunia anak.

“Program ini tidak sekadar menciptakan buku, melainkan membangun ekosistem kreatif yang mempertemukan penulis, ilustrator, budayawan, guru, akademisi, hingga pemerintah daerah dalam proses kolaboratif,” imbuhnya.

Baca Juga :  Kadis Perkim Berau Bongkar Praktik Monopoli Proyek yang Berlangsung Selama Dua Tahun

Selain itu kata dia, rangkaian kegiatan ini telah dimulai sejak lokakarya penulisan pada Agustus lalu dan berpuncak pada Festival BaBaDa yang menghadirkan peluncuran buku, pameran ilustrasi, diskusi karya, hingga pertunjukan seni tradisi.

“Melalui buku cerita anak bergambar ini, diharapkan anak-anak di Berau dapat mengenal budaya lokal sejak dini, sekaligus meningkatkan minat baca serta daya imajinasi mereka di tengah gempuran era digital,” pungkasnya. (*)

Reporter: Georgie Sihaloho

Editor: Endah Agustina

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Are you human? Please solve:Captcha