Kualitas Udara Samarinda Menurun Sore Hari, DLH Soroti Tiga Wilayah Rawan Karhutla

Grafis. (FOTO: Aditya Setiawan)

benuakaltim.co.id, SAMARINDA – Kualitas udara di sejumlah kawasan Kota Samarinda mengalami penurunan pada siang hingga sore hari. Kondisi tersebut terutama terjadi di wilayah yang aktivitas kebakaran lahannya cukup tinggi.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda, Suwarso, mengatakan hasil pemantauan tim menunjukkan kualitas udara pada pagi hingga menjelang siang masih berada dalam kategori baik hingga sedang.

Namun kondisi mulai berubah setelah memasuki siang hari dan cenderung memburuk pada sore.

“Kalau pagi sampai jam 11-an bagus, hijau, sedang. Nah, setelah itu sore akan mengalami penurunan,” ungkap Suwarso, Selasa (8/9/2026).

Menurutnya, penurunan kualitas udara paling terlihat di Samarinda Utara, Palaran dan Sambutan. Ketiga kawasan tersebut menjadi perhatian lantaran cukup sering terjadi kebakaran lahan yang berpotensi memengaruhi kualitas udara.

Baca Juga :  Sampah Menumpuk di Teras Samarinda, Andi Harun Ogah Habiskan Rp800 Juta

Meski begitu, Suwarso menegaskan kondisi udara tidak sehat tersebut tidak terjadi secara merata di seluruh Samarinda. Kualitas udara dapat berubah sesuai lokasi dan waktu pemantauan.

“Pokoknya daerah-daerah yang tingkat kebakaran lahannya tinggi, rata-rata kualitas udaranya tidak sehat. Tapi fluktuatif, nanti pagi sampai jam 11-an bagus, hijau, sedang,” jelasnya.

Mengantisipasi dampak terhadap masyarakat, khususnya warga yang banyak beraktivitas di luar ruangan, DLH Samarinda kini berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan.

Pembahasan juga menyasar kondisi di lingkungan sekolah. Salah satu opsi yang tengah dipertimbangkan yakni kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung dengan menerapkan kewajiban penggunaan masker.

Baca Juga :  Karhutla Betapus Jadi yang Terluas di Samarinda, Api Lahap 20,5 Hektare

Menurut Suwarso, kebijakan tersebut dinilai lebih aman dibandingkan meliburkan sekolah. Sebab, anak-anak dikhawatirkan justru lebih banyak beraktivitas di luar rumah tanpa pengawasan.

“Sedang kita diskusikan, kita mantapkan keputusannya untuk tetap dipakai masker sekolah itu. Karena kita khawatir kalau ada diliburkan juga anak-anak berkeliaran malah berisiko tinggi. Jadi tetap sekolah tapi tetap pakai masker,” tuturnya.

Selain koordinasi lintas instansi, DLH juga turun langsung melakukan sosialisasi kepada masyarakat di wilayah yang dianggap memiliki risiko tinggi. Pembagian masker dilakukan untuk membantu mengurangi paparan udara yang terdampak asap kebakaran lahan.

Salah satu kawasan yang telah menjadi sasaran sosialisasi yakni Makroman.
Untuk mendapatkan data yang lebih detail, DLH Samarinda juga menyiapkan pemasangan alat pemantauan kualitas udara portabel.

Baca Juga :  Sampah Menumpuk di Teras Samarinda, Andi Harun Ogah Habiskan Rp800 Juta

Tiga lokasi yang akan menjadi titik pemantauan yakni Bantuas, Makroman dan Betapus. Peralatan tersebut diperoleh melalui kolaborasi dengan sejumlah instansi, seperti Laboratorium Kesehatan Provinsi, Baristan dan Balai Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

Pengukuran ini diharapkan dapat memberikan gambaran kualitas udara secara lebih spesifik, terutama di kawasan yang berpotensi terdampak kebakaran lahan.

Suwarso memastikan pemasangan alat dilakukan dalam waktu dekat sehingga perubahan kualitas udara dapat dipantau secara berkala, termasuk pada jam-jam ketika kualitas udara mulai menurun. “Hari ini (Selasa) sudah dipasang di tiga titik itu ya,” pungkas Suwarso. (*)

Reporter: Aditya Setiawan

Editor: Ramli

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Are you human? Please solve:Captcha