benuakaltim.co.id, SAMARINDA – Gangguan pasokan listrik yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) disebut berkaitan dengan kerusakan mesin pada sejumlah pembangkit listrik swasta atau Independent Power Producer (IPP).
Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud memastikan kondisi tersebut bukan disebabkan oleh kelangkaan batu bara sebagai bahan bakar pembangkit. Kerusakan mesin disebut berdampak terhadap kapasitas pasokan listrik sekitar 100 megawatt (MW).
Rudy menyampaikan hal itu setelah berkoordinasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengenai kondisi kelistrikan di Kalimantan.
“Kemarin kita sempat berkunjung ke Kementerian Ketenagalistrikan. Yang disampaikan berkaitan dengan beberapa IPP (Independent Power Producer) yang ada di Kalimantan ini yang men-support Kalimantan bersama Kalimantan Timur, terjadi kerusakan,” kata Rudy.
Ia menegaskan gangguan tersebut tidak berkaitan dengan ketersediaan batu bara. Persoalan utama berada pada mesin pembangkit yang mengalami kerusakan.
“Yang masalahnya bukan batu baranya, tapi yang bermasalah adalah mesinnya,” ujarnya.
Saat ini, pengelola pembangkit tengah melakukan maintenance overhaul atau perawatan menyeluruh. Langkah tersebut dilakukan untuk mengecek dan memperbaiki sejumlah komponen mesin yang mengalami gangguan.
Menurut Rudy, kondisi menjadi lebih berdampak karena beberapa pembangkit menjalani proses perawatan dalam waktu yang hampir bersamaan.
“Yang terjadi kebetulan pada saat yang sama, kira-kira begitu,” katanya.
Berdasarkan hasil koordinasi dengan pemerintah pusat, proses perbaikan tersebut ditargetkan selesai dalam waktu maksimal 10 hari. Setelah perawatan rampung, kapasitas pembangkit diharapkan kembali normal.
“Yang jelas disampaikan kemarin tidak lebih daripada 10 hari, itu sudah. Mudah-mudahan pemadamannya sudah bisa berkurang atau sudah tidak terjadi lagi di Kalimantan,” tuturnya.
Rudy berharap proses perbaikan berjalan sesuai target sehingga pasokan listrik kembali stabil. Dengan pulihnya sejumlah mesin pembangkit, gangguan pemadaman yang dirasakan masyarakat di Kaltim diharapkan dapat ditekan.
Pemerintah pun masih menunggu hasil maintenance overhaul sejumlah IPP tersebut. Target perbaikan dalam 10 hari menjadi salah satu langkah yang diharapkan mampu mengembalikan keandalan sistem kelistrikan di Kalimantan, termasuk Kaltim. (*)
Reporter: Aditya Setiawan
Editor: Ramli






