Agustus Jadi Periode Terkering di Kaltim, Curah Hujan Turun Lebih dari 80 Persen

Prakirawan cuaca Stasiun Meteorologi Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto Samarinda, Bai’at Alhadid.(FOTO: Aditya Setiawan/BENUAKALTIM)

benuakaltim.co.id, SAMARINDA – Curah hujan di Kalimantan Timur (Kaltim) mengalami penurunan tajam pada pertengahan 2026, dengan anomali penurunan pada Agustus mencapai lebih dari 80 persen. Kondisi ini berkaitan dengan penguatan El Nino yang memengaruhi pola hujan di sejumlah wilayah.

Penurunan mulai terlihat pada Juli dan berlanjut hingga September 2026. Pada dasarian III atau periode 20–30 September, sebagian wilayah Kaltim masih mengalami curah hujan kategori rendah, sementara sejumlah daerah mencatat hari tanpa hujan dengan durasi yang beragam.

Wilayah dengan periode hari tanpa hujan terpanjang umumnya berada di Paser, Samarinda, Kutai Kartanegara, dan Kutai Barat. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak periode kering tidak hanya terjadi di satu wilayah, tetapi tersebar di sejumlah daerah di Kaltim.

Baca Juga :  Mobilitas Penumpang Kaltim Menurun, Penerbangan Domestik Turun 14,88 Persen

Prakirawan cuaca Stasiun Meteorologi Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto Samarinda, Bai’at Alhadid menjelaskan, Agustus menjadi periode dengan curah hujan terendah setelah penurunan mulai terjadi pada bulan sebelumnya.

“Memang dampaknya cukup terasa terhadap curah hujan di Kaltim. Penurunannya mulai terlihat sejak Juli, kemudian Agustus menjadi periode dengan curah hujan paling rendah,” kata Bai’at dalam konferensi pers prediksi musim hujan 2026–2027 melalui Zoom, Jumat (9/10/2026).

Baca Juga :  Penutupan Jembatan Muara Lembak Dimulai 13 Oktober

Berdasarkan analisis suhu muka laut di wilayah Nino 3.4, anomali pada periode Juli–September 2026 mencapai plus 2,70 derajat Celsius. Angka tersebut dalam paparan BMKG dikategorikan sebagai El Nino sangat kuat.

Bai’at mengatakan, kondisi saat ini memiliki kemiripan dengan kejadian El Nino pada 1997 dan 2015. Pada kedua periode tersebut, curah hujan di Kaltim umumnya masih mengalami penurunan hingga Oktober sebelum mulai meningkat pada November dan Desember.

Meski demikian, pola historis tersebut tidak menjamin kondisi yang sama akan terulang. Perubahan curah hujan pada akhir tahun tetap bergantung pada perkembangan kondisi atmosfer.
BMKG memperkirakan El Nino masih bertahan hingga awal 2027. Karena itu, perkembangan cuaca perlu terus dipantau untuk mengetahui perubahan intensitas periode kering dan potensi peningkatan curah hujan.

Baca Juga :  Pendapatan Turun, Struktur Anggaran Kaltim 2026 Dirasionalkan

“Kalau melihat kejadian El Nino pada 1997 dan 2015, curah hujan biasanya mulai meningkat pada November dan Desember. Namun, untuk kondisi sekarang, kita tetap perlu mengikuti perkembangan cuaca karena El Nino diprakirakan masih bertahan hingga awal 2027,” tandasnya. (*)

Reporter: Aditya Setiawan

Editor: Endah Agustina

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Are you human? Please solve:Captcha