benuakaltim.co.id, BERAU– Gunung Tabur merupakan sebuah kecamatan dan kelurahan di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, yang terkenal sebagai pusat sejarah dan budaya melalui Museum Gunung Tabur (Keraton) serta Kesultanan Berau.
Kawasan ini dikenal memiliki ciri kesultanan dengan latar belakang kerajaan yang terbentuk pada awal abad ke-19 serta menyimpan sejarah panjang dan daya tarik budaya.
Kini dikembangkan menjadi destinasi wisata sejarah, budaya, dan kuliner terintegrasi dengan pemandangan sungai dan fasilitas baru. Sehingganya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau, menekankan pentingnya pelestarian sejarah dalam pembangunan Gunung Tabur.
Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas menegaskan, komitmen Pemkab Berau untuk membangun Gunung Tabur agar semakin maju pada tahun ini.
Pembangunan tersebut mencakup sektor pelestarian sejarah, penguatan ekonomi kreatif dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), pelayanan dasar hingga infrastruktur.
“Setiap kecamatan memiliki keunggulan masing-masing, termasuk Gunung Tabur yang masih menjaga tradisi kesultanan sebagai bentuk pelestarian budaya dan adat istiadat,” ujarnya, Jumat (27/2/2026).
Ia mengungkapkan, Kesultanan Gunung Tabur terbentuk akibat pemecahan Kesultanan Berau pada masa Raja Berau ke-9 Aji Dilayas, yang membagi wilayah menjadi Gunung Tabur dan Sambaliung karena perselisihan tahta.
Dalam sejarahnya, Kesultanan Gunung Tabur pernah mengalami masa kejayaan dengan wilayah kekuasaan yang mencakup sebagian besar Kalimantan Utara hingga berbatasan dengan Brunei Darussalam.
“Pada masa Perang Dunia II, istana Gunung Tabur sempat hancur akibat pengeboman Sekutu pada 1945,” ungkapnya.
Kemudian, istana tersebut dibangun kembali oleh pemerintah daerah pada 1990 dan pada 1992 diresmikan sebagai Museum Batiwakkal.
“Museum ini menyimpan berbagai peninggalan bersejarah seperti meriam, singgasana, dan benda-benda kuno lainnya yang kini menjadi daya tarik wisata sejarah,” terangnya.
Bupati menilai, Gunung Tabur semakin diminati sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya karena tradisi yang masih terjaga, seperti Baturunan Parau (gotong royong menurunkan perahu ke sungai) dan ritual Manyandru.
“Tradisi kesultanan tersebut terus lestari berkat dukungan pemerintah daerah,” imbuhnya.
Dari sisi ekonomi dan infrastruktur, lanjut Bupati, Pemkab Berau juga mengembangkan Pasar Barambang yang kini menjadi pusat kuliner dan promosi UMKM sejak diaktifkan awal 2026.
Pasar yang terletak di tepi sungai, dekat Museum Gunung Tabur, dibuka setiap Sabtu dan Minggu malam dengan menyajikan kuliner khas Berau serta jajanan dari berbagai daerah.
“Tahun ini pembangunan di Gunung Tabur terus berlanjut, meliputi pembangunan dan rehabilitasi jalan, drainase, irigasi, normalisasi sungai, penguatan tebing, peningkatan sistem air minum, hingga lanjutan pembangunan TPS 3R,” bebernya.
Dengan perpaduan pelestarian sejarah dan pembangunan infrastruktur, Gunung Tabur diharapkan semakin berkembang sebagai kawasan wisata budaya sekaligus pusat pertumbuhan ekonomi baru di Berau.
“Upaya sinergis antara Pemkab Berau, pihak swasta atau ketiga, dan masyarakat ini diharapkan menjadikan Gunung Tabur sebagai ikon sejarah dan budaya yang maju, bersih, serta membanggakan di Kabupaten Berau khususnya, secara umum di Kalimantan Timur,” pungkasnya. (*)
Reporter: Georgie Silalahi
Editor: Endah Agustina






