benuakaltim.co.id, BERAU– Proses administrasi kaderisasi di internal Partai Gerindra Kabupaten Berau kini tengah menjadi sorotan.
Salah satu figur yang cukup menyita perhatian adalah Madri Pani, yang hingga kini dikabarkan belum mengantongi Kartu Tanda Anggota (KTA) resmi dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerindra.
Ketua DPC Gerindra Berau, Jakariya, angkat bicara mengenai status tersebut. Menurutnya, secara organisatoris baik di tingkat DPC maupun DPD (Dewan Pimpinan Daerah) Kaltim sebenarnya tidak memiliki kendala. Namun, keputusan final sepenuhnya berada di tangan pengurus pusat di Jakarta.
“DPC maupun DPD sebenarnya sudah tidak ada masalah. Cuma kan semua ini kita berpaling ke DPP. Tinggal menunggu persetujuan DPP seperti apa,” ujar Jakariya saat dikonfirmasi baru-baru ini Selasa (28/4/2026).
Jakariya menjelaskan, keterlambatan penerbitan KTA ini kemungkinan besar disebabkan oleh kesibukan luar biasa di tingkat DPP. Ia menyebut sosok Sekjen Gerindra, Ahmad Muzani, saat ini sedang sangat fokus pada urusan kenegaraan yang mendesak.
Hal ini membuat urusan internal partai yang sifatnya administratif atau “perentelan” di daerah menjadi prioritas kedua setelah urusan vital negara.
“Apalagi Sekjennya kan Pak Muzani fokus ngurus negara. Jadi urusan internal partai ini mungkin belum terlalu fokus. Keputusan yang sifatnya non-esensial pasti jadi second line,” tambahnya.
Terkait kabar penyerahan SK atau KTA yang sempat beredar di Rakorda sebelumnya, Jakariya mengklarifikasi bahwa momen tersebut barulah sebatas proses simbolis.
Selain Madri Pani dari Berau, terdapat beberapa tokoh lain dari Kutai Kartanegara (Kukar) dan Penajam Paser Utara (PPU) yang juga diperkenalkan.
“Kemarin itu baru simbolis disampaikan di Rakor. Dari Berau ada Pak Madri Pani, dan bupati dari PPU. Tapi untuk Berau dan Kubar (Kutai Barat) memang prosesnya masih berjalan di DPP,” jelasnya lagi.
Meski proses administrasi di pusat memakan waktu, Jakariya memastikan bahwa situasi internal DPC Gerindra Berau tetap solid dan kondusif. Ia menepis isu adanya kegelisahan kader akibat ketidakpastian status tersebut.
Bagi Jakariya, bergabungnya tokoh-tokoh baru adalah hal yang lumrah dan disambut baik selama mengikuti koridor organisasi yang berlaku.
“Kalau di kita internal partai aman-aman saja, tidak masalah. Kita masih kondusif dan sering koordinasi. Kita berproses sesuai koridor yang ada, tidak mau ambil jalan pintas,” tutup Jakariya. (*)
Reporter: Georgie Silalahi
Editor: Endah Agustina






