benuakaltim.co.id, BERAU– Sektor kesehatan di Kabupaten Berau kini tengah menjadi sorotan tajam.
Anggota Komisi I DPRD Berau, Abdul Waris, melontarkan kritik pedas terkait manajemen perencanaan keuangan dan kualitas pelayanan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Rivai yang dinilai kalah saing dengan pertumbuhan rumah sakit swasta.
Dalam sebuah forum diskusi resmi, Waris menyoroti ketimpangan yang terjadi antara besarnya investasi daerah dengan realita pelayanan di lapangan.
Abdul Waris mengungkapkan adanya masalah serius dalam perencanaan keuangan daerah, terutama terkait pembangunan rumah sakit baru. Hal yang paling menarik perhatian adalah sentilan Waris mengenai pendapatan rumah sakit daerah yang menurun.
Ia menganalisis bahwa penurunan ini bukan karena masyarakat Berau sudah sehat, melainkan karena banyaknya pasien yang memilih berobat ke rumah sakit swasta seperti RS Tirta.
Waris membandingkan pembangunan RS Tirta yang dianggapnya jauh lebih efisien dibandingkan proyek pemerintah.
“Kenapa pendapatan kita berkurang? Jangan-jangan banyak yang lari ke (RS) Tirta. Bayangkan, mereka bangun fisik cuma Rp38 miliar sampai Rp48 miliar sudah hampir jadi, sedangkan kita Rp100 miliar,” sebutnya, Selasa (28/4/2026).
Ia pun menyindir efektivitas RSUD milik pemerintah dengan membandingkan bentuk bangunannya.
“Bangunan (RS swasta) itu ukurannya mirip gedung walet, tapi fasilitasnya jalan. Kalau kita tidak akui ada masalah di layanan kita, kita tidak akan pernah bisa memperbaiki masalah kesehatan di Berau,” cetus politisi tersebut.
Menutup pernyataannya, Abdul Waris mendesak pemerintah daerah dan manajemen RSUD untuk melakukan evaluasi total.
Ia menekankan, pembangunan gedung megah tidak akan berarti jika masyarakat tetap merasa lebih nyaman mendapatkan layanan di rumah sakit swasta.
“Kita jangan sampai bangun rumah sakit baru, tapi rumah sakit lamanya tidak ada perbaikan. Akhirnya yang untung malah swasta. Kita punya komitmen moral untuk memperbaiki layanan rumah sakit kita sendiri,” pungkasnya. (*)
Reporter: Georgie Silalahi
Editor: Endah Agustina






