benuakaltim.co.id, BERAU — Langit Kabupaten Berau mendadak jadi sorotan setelah citra satelit pemantau cuaca mendeteksi adanya sebaran kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah. Fenomena ini sontak memicu tanda tanya besar di tengah masyarakat, terlebih terkait ancaman dampaknya terhadap aktivitas harian hingga dunia penerbangan.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Kalimarau Berau, Ade Heryadi, angkat bicara dan membeberkan hasil analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Berdasarkan pantauan citra satelit Himawari-9, pergerakan sebaran asap tersebut terpantau mulai pukul 08.00 Wita hingga pukul 14.00 Wita.
“Pergerakan angin dominan berasal dari arah selatan dan barat daya, kemudian bergerak ke utara serta timur laut,” ungkap Ade Heryadi, Selasa (6/10/2026).
Ia menjelaskan, hembusan angin dari arah selatan dan barat daya secara otomatis mendorong partikel asap menuju ke wilayah Berau dan sekitarnya.
Selain itu, BMKG juga mendeteksi adanya laporan titik panas atau hotspot akibat kebakaran lahan, baik di sekitar wilayah Berau maupun dari daerah lain yang turut memicu pergerakan asap ke wilayah tersebut.
Menjawab kecemasan warga perihal potensi gangguan kesehatan dan transportasi, Ade memastikan kabut asap ini tidak akan bertahan selamanya. Kondisi tersebut sangat bergantung pada dinamika cuaca di lapangan.
“Kondisi sebaran asap ini bisa berkurang atau hilang apabila turun hujan, atau jika terjadi perubahan arah angin. Kalau angin bergeser dari arah timur atau timur laut, secara otomatis sebaran asap akan menjauh dari wilayah kita dan kembali melihat kondisi tiga hari sebelumnya,” jelasnya.
Mengingat fluktuasi kualitas udara yang naik-turun akibat paparan asap, BMKG mengeluarkan imbauan penting bagi masyarakat luas, khususnya yang beraktivitas di luar ruangan. Masyarakat diimbau untuk selalu menggunakan masker pelindung guna menghindari dampak buruk paparan asap terhadap kesehatan pernapasan.
Warga diminta mengurangi kegiatan yang tidak mendesak di luar rumah dan menghindari segala bentuk aktivitas pemicu kebakaran lahan yang dapat memperparah kondisi udara di Kabupaten Berau.
“Kami terus memantau pergerakan cuaca dan kualitas udara ini secara berkala demi keselamatan bersama,” tutup Ade. (*)
Reporter: Georgie Sihaloho
Editor: Endah Agustina






