benuakaltim.co.id, BERAU – Berada di garda terdepan wilayah terluar Indonesia, Kecamatan Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, menyimpan berbagai persoalan mendesak. Mulai dari kelangkaan BBM subsidi, buruknya jaringan komunikasi, hingga krisis air bersih yang mengancam kehidupan warga serta sektor pariwisata.
Camat Maratua, Ashari, blak-blakan mengungkapkan kondisi riil di wilayahnya. Menurutnya, ada tiga masalah utama di Maratua yang membutuhkan perhatian khusus dari pemerintah, yakni masalah BBM, krisis air, dan pengelolaan sampah.
Ashari menyebutkan pasokan BBM subsidi jenis Pertalite dari Pertamina sudah di-stop (disclosing) selama tiga bulan terakhir. Warga dan pelaku usaha wisata pun terpaksa memutar otak untuk memenuhi kebutuhan harian.
“Untuk subsidi Pertalite, sudah tiga bulan di-disclosing oleh Pertamina, kami tidak mendapat subsidi Pertalite. Kuota BBM Pertalite itu sebenarnya 80 ton per bulan untuk dua kali pengiriman. Tapi begitu tiba di lapangan, empat hari langsung habis. Ini ada apa?,” ujar Ashari, Kamis (15/10/2026).
Ia menduga ada indikasi permainan oknum karena disparitas harga antara Pertalite dan Pertamax yang dimanfaatkan untuk kegiatan operasional speed boat wisata.
“Bohong lah kalau mereka tidak cari yang murah. Masalahnya, kewenangan pengawasan ada di pengelola dan Pertamina,” tegasnya.
Di sisi lain, untuk BBM jenis solar, nelayan Maratua baru saja mendapat angin segar setelah terbitnya rekomendasi dari Dinas Perikanan sehingga dapat mengambil solar bersubsidi di SPBUN.
Masalah telekomunikasi juga menjadi keluhan utama para wisatawan dan warga. Terdapat tiga kampung di Maratua yang mengalami blind spot atau kesulitan sinyal parah, yaitu Kampung Teluk Harapan, Bohesilian, dan Payung-Payung.
“Di Payung-Payung itu ada istilah ‘GSM’—Geser Sedikit Menghilang. Kalau di Derawan listrik mati, seluruh Maratua ikut kena imbas tidak dapat jaringan. Ini yang sering dikeluhkan wisatawan dan tamu yang datang,” seloroh Ashari.
Ancaman terbesar yang membayangi Maratua dalam beberapa tahun ke depan adalah krisis air bersih. Abrasi yang terjadi di Kampung Teluk Harapan mulai merusak satu-satunya sumber air tawar di pulau tersebut.
“Kondisi air di Teluk Harapan sekarang sudah payau dan kadar timbalnya tinggi, tidak bisa dikonsumsi sama sekali. Saya berani jamin, dalam 5 tahun ke depan kita tidak akan punya air tawar lagi kalau ini dibiarkan,” jelasnya.
Dampak krisis air ini dirasakan berat oleh warga Teluk Alulu. Selama musim kemarau empat bulan terakhir, warga terpaksa membeli air bersih seharga Rp 140.000 hingga Rp 180.000 per profil tank. Padahal sebelumnya sempat dibangun embung seluas 50×50 meter bantuan pihak ketiga tanpa APBD-APBN, namun fasilitas pendukungnya belum berjalan optimal.
Peningkatan sektor pariwisata memang berhasil meningkatkan kesejahteraan warga yang beralih profesi dari nelayan menjadi pelaku wisata. Namun, Ashari mengingatkan agar kuota pelaku usaha wisata luar tidak dibuka tanpa kendali yang dapat mematikan usaha warga lokal.
“Jangan sampai ketika mereka mati usaha karena tersingkir, mereka kembali jadi nelayan ilegal atau pakai potas. Kalau pakai potas, terumbu karang mati dan tidak kelihatan dari luar. Apalagi jarak Maratua ke Filipina atau Malaysia hanya 4 jam pakai speedboat. Jangan sampai karena urusan perut, warga malah lari jadi pengedar,” pungkas Ashari. (*)
Reporter: Georgie Sihaloho
Editor: Endah Agustina






