benuakaltim.co.id, SAMARINDA – Kondisi Waduk Benanga yang menjadi salah satu sumber air baku Perumda Tirta Kencana Samarinda terus dipantau menyusul kemarau panjang yang terjadi saat ini.
Elevasi air di waduk tersebut tercatat sekitar 6,4 meter dan mengalami penurunan rata-rata hingga 5 sentimeter setiap hari. Penyusutan terjadi karena air terus dimanfaatkan untuk mendukung produksi air bersih bagi masyarakat.
Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV, Andri Rachmanto Wibowo, mengatakan kondisi tersebut perlu segera diantisipasi. Sebab, apabila elevasi Waduk Benanga mencapai 6 meter, air di lokasi tersebut sudah tidak dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan PDAM.
“Kalau sampai elevasinya 6 meter, airnya sudah tidak bisa kita manfaatkan. Nah, ini kita harus mengantisipasi ke depan,” ujar Andri usai rapat koordinasi pemenuhan air baku Perumda Tirta Kencana di Kantor BPBD Kota Samarinda, Jalan Sentosa, Sabtu (26/9/2026).
Sebagai langkah antisipasi, BWS Kalimantan IV menyiapkan skema pemompaan air dari Waduk Dayung menuju Waduk Benanga. Kedua waduk tersebut berjarak sekitar 10 meter.
Sebelumnya, Pemkot Samarinda telah membuat alur yang memungkinkan air dari Waduk Dayung dialirkan untuk membantu kebutuhan intake PDAM di Benanga.
Waduk Dayung memiliki kapasitas sekitar 340 ribu meter kubik. Dengan kebutuhan pemanfaatan sekitar 5.200 meter kubik per hari, cadangan air tersebut diperkirakan mampu menopang kebutuhan hingga sekitar 65 hari.
“Dari 340 ribu meter kubik itu kalau dimanfaatkan sekitar 5.200 meter kubik per hari, bisa 65 hari. Jadi kita aman sampai November,” jelasnya.
Untuk mendukung proses pemindahan air, BWS Kalimantan IV akan menyiapkan dua unit pompa dengan kapasitas masing-masing 250 liter per detik. Sementara BPBD Kota Samarinda telah memiliki satu unit pompa berkapasitas 54 liter per detik.
Menurut Andri, pompa milik BWS tersebut pada dasarnya merupakan peralatan yang biasa digunakan dalam penanganan banjir. Namun, dalam kondisi kekeringan, peralatan tersebut dapat dialihkan untuk membantu pemenuhan kebutuhan air baku.
“Jadi sinergi antara BWS, provinsi, kota itu bareng-bareng,” tuturnya.
Selain langkah darurat melalui Waduk Dayung, BWS Kalimantan IV juga menyiapkan alternatif jangka menengah dengan memanfaatkan sejumlah void bekas tambang di sekitar kawasan Waduk Dayung dan Benanga.
Air dari void nantinya berpotensi dialirkan melalui saluran maupun pipa menggunakan pompa menuju Waduk Dayung. Selanjutnya, air akan diteruskan ke Waduk Benanga.
Dari dua titik yang telah direncanakan, lokasi void yang paling dekat dengan Waduk Dayung menjadi prioritas. Namun, rencana tersebut masih harus melalui pengecekan lapangan bersama pihak kecamatan dan kelurahan, terutama jika jalur saluran nantinya melintasi lahan milik masyarakat.
Andri menyebut kualitas air dari void yang telah diperiksa Dinas Lingkungan Hidup relatif baik dan dapat digunakan untuk kebutuhan MCK. Namun, jika hendak dimanfaatkan sebagai sumber air baku untuk kebutuhan air minum, tetap diperlukan proses pengolahan agar memenuhi standar.
Di tengah kondisi tersebut, Andri mengimbau masyarakat tidak panik, tetapi tetap menghemat penggunaan air.
“Jangan panik, namun tetap kita harus menghemat pemakaian air. Karena air ini sangat kita butuhkan, sedangkan sumber kita itu adalah dari hujan,” pungkasnya. (*)
Reporter: Aditya Setiawan
Editor: Ramli






