Antre BBM Ganggu Pendapatan Ojol, Waktu Tunggu Bisa Hilangkan hingga 4 Orderan

Terpantau antrean masih mengular di salah satu SPBU di Kota Samarinda.(FOTO: Aditya Setiawan)

benuakaltim.co.id, SAMARINDA – Antrean bahan bakar minyak (BBM) di Samarinda turut memangkas waktu kerja pengemudi ojek online (ojol). Bagi pengemudi yang mengandalkan jumlah order harian, waktu yang habis di SPBU berarti berkurangnya kesempatan memperoleh pendapatan.

Indra (30), pengemudi ojol yang telah lima tahun bekerja di Samarinda, mengatakan antrean BBM dapat berlangsung 45 menit hingga satu setengah jam. Dalam waktu tersebut, ia memperkirakan bisa kehilangan kesempatan mengambil tiga sampai empat order.

“Kalau 45 menit tadi itu bisa ngelawatin tiga sama empat (order). Ya kita rugi waktu,” ujarnya saat diwawancarai ketika menunggu orderan, Kamis, (1/10/2026).

Menurut Indra, waktu yang terbuang untuk mengantre bisa bernilai sekitar Rp40 ribu jika dihitung berdasarkan order yang berpotensi didapat. Kondisi tersebut menjadi persoalan tersendiri karena sepeda motor merupakan alat utama untuk mencari penghasilan.

Baca Juga :  Antrean SPBU Samarinda Belum Terurai, Pemkot Kaji Kupon hingga Sistem Digital

Antrean paling terasa pada jam berangkat dan pulang kerja. Karena itu, Indra memilih mengisi BBM pada malam hari, sekitar pukul 21.00 hingga 22.00, ketika kepadatan mulai berkurang.

Namun, pilihan waktu tersebut belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan. Ia menyebut jumlah SPBU yang beroperasi selama 24 jam masih terbatas. Ia pun menyinggung perbandingan antara pulau Kalimantan dengan pulau Jawa yang cenderung SPBU nya tersebar merata dengan waktu buka 24 jam.

“Di sini kan yang 24 jam cuma di dekat Islamic Center (Jalan Slamet Riyadi). Kalau di Jawa kan banyak yang 24 jam,” tuturnya.

Sebagai pengemudi ojol, kebutuhan BBM Indra cukup tinggi karena sepeda motor digunakan untuk bekerja sepanjang hari. Kondisi itu membuat pengeluaran bahan bakar menjadi salah satu biaya rutin yang harus diperhitungkan.

Baca Juga :  Antrean SPBU Samarinda Belum Terurai, Pemkot Kaji Kupon hingga Sistem Digital

Ia memilih Pertalite karena harganya lebih terjangkau. Untuk mengisi penuh tangki sepeda motor menggunakan Pertamax, ia memperkirakan membutuhkan sekitar Rp55 ribu, sedangkan Pertalite sekitar Rp30 ribu.

“Selisih Rp25 ribu. Bisa untuk jajan adik atau keponakan,” ucapnya.

Meski begitu, Indra mengaku sebenarnya lebih memilih Pertamax karena proses pengisian dinilainya lebih cepat sehingga waktu bekerja tidak banyak terpotong.

“Sebenarnya pakai Pertalite karena keadaan. Tapi kalau ada uang sih pinginnya Pertamax, ya cepat. Nggak rugi waktu,” sebutnya.

Persoalan bertambah ketika stok BBM habis sebelum gilirannya mengisi. Dalam kondisi tersebut, Indra terpaksa membeli BBM secara eceran dengan harga lebih tinggi.

Baca Juga :  Antrean SPBU Samarinda Belum Terurai, Pemkot Kaji Kupon hingga Sistem Digital

Menurutnya, pembelian BBM eceran dapat menambah pengeluaran sekitar Rp8 ribu hingga Rp10 ribu. Biaya tersebut tentu ikut mengurangi pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan sebagai ojol.

Indra berharap fasilitas pengisian BBM di Samarinda dapat diperbanyak, termasuk SPBU yang beroperasi selama 24 jam. Dengan pilihan lokasi dan waktu pengisian yang lebih banyak, ia menilai antrean dapat lebih tersebar.

“Harapannya Kaltim lebih baik, pom bensin ada di mana-mana,” harapnya.

Terkait rencana penerapan sistem kupon antrean BBM, Indra tidak mempermasalahkannya selama sistem tersebut memberikan kepastian kepada pengemudi dan ketersediaan BBM tetap terjaga.

“Selama stoknya masih ada nggak masalah. Yang kita butuh kepastian, karena pernah sudah lama-lama menunggu, tapi tiba-tiba bisa habis,” pungkasnya. (*)

Reporter: Aditya Setiawan
Editor: Ramli

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Are you human? Please solve:Captcha