Pemprov Kaltim Siapkan Jaringan Kereta Api 1.579 Kilometer, Prioritas Konektivitas ke IKN

Ilustrasi. (FOTO: Gemini AI)

benuakaltim.co.id, SAMARINDA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur telah menyiapkan rencana pengembangan jaringan perkeretaapian sebagai bagian dari upaya memperkuat konektivitas antarwilayah di Benua Etam. Rencana tersebut bahkan telah disusun sebelum pemerintah pusat kembali menggaungkan pembangunan Kereta Api Trans Kalimantan.

Komitmen itu dituangkan dalam Peraturan Gubernur Kalimantan Timur Tahun 2025 tentang Rencana Induk Perkeretaapian Provinsi yang memuat pengembangan jaringan rel sepanjang 1.579,54 kilometer. Jalur tersebut dirancang menghubungkan kawasan strategis, pusat pertumbuhan ekonomi, kabupaten/kota, hingga Ibu Kota Nusantara (IKN).

Kepala Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Dinas Perhubungan Kaltim, Heru Sentosa, mengatakan penyusunan dokumen rencana induk sebenarnya telah dimulai sejak 2023. Setelah melalui proses penyelarasan dengan Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPNas), dokumen tersebut kemudian ditetapkan menjadi Peraturan Gubernur pada 2025.

Menurut Heru, keberadaan IKN menjadi salah satu pertimbangan utama dalam penyusunan jaringan kereta api di Kalimantan Timur. Karena itu, akses menuju kawasan ibu kota negara dimasukkan sebagai salah satu prioritas pengembangan.

Baca Juga :  Proyeksi APBD Kaltim 2027 Turun Jadi Rp12,1 Triliun, Penyebabnya Penyesuaian Pendapatan

“Jalur dari Bandara APT Pranoto menuju IKN sudah masuk dalam rencana. Selain itu, jaringan kereta api di dalam kawasan IKN juga sudah direncanakan dan nantinya akan disambungkan dengan jaringan Trans Kalimantan,” ujarnya, Jumat (31/7/2026).

Ia menjelaskan konsep pengembangan yang disiapkan pemerintah provinsi tidak hanya berorientasi pada konektivitas menuju IKN. Jaringan kereta api juga dirancang menghubungkan berbagai pusat ekonomi di Kalimantan Timur sehingga dapat mendukung distribusi barang maupun mobilitas masyarakat.

Menurutnya, jaringan tersebut akan berfungsi sebagai jalur pengumpan (feeder) yang terintegrasi dengan lintasan utama Kereta Api Trans Kalimantan yang menjadi program pemerintah pusat.

Dalam rencana induk tersebut telah ditetapkan sejumlah koridor strategis, di antaranya jalur Tabang–Pelabuhan Santan, Bontang dengan panjang sekitar 216,50 kilometer, jalur Bandara APT Pranoto Samarinda–Tenggarong sepanjang 31,34 kilometer, hingga koridor yang menghubungkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy, Sangatta, Tanjung Redeb, Mahakam Ulu, dan wilayah perbatasan Kalimantan Barat.

Baca Juga :  Bikin di Luar Daerah, Disdikbud Kaltim Utamakan Kualitas Seragam Gratispol

“Konsepnya menghubungkan jaringan Trans Kalimantan dengan IKN, kemudian melalui kawasan Samarinda dan menghubungkan antarkabupaten dan kota di Kaltim. Jadi arahnya membangun konektivitas antardaerah sekaligus mendukung akses menuju IKN,” jelasnya.

Selain menentukan trase jaringan, dokumen tersebut juga mengatur spesifikasi teknis jalur yang akan dibangun. Rel dirancang menggunakan standar internasional dengan lebar 1.435 milimeter. Untuk operasionalnya, kereta penumpang diproyeksikan mampu melaju hingga 160 kilometer per jam, sedangkan kereta barang dirancang berkecepatan maksimal 100 kilometer per jam.

Dari sisi pembiayaan, Heru menyebut pembangunan akan mengikuti pembagian kewenangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Infrastruktur yang menjadi bagian dari proyek strategis nasional akan didanai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sedangkan dukungan perencanaan dan jaringan yang menjadi kewenangan daerah disiapkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Baca Juga :  KONI dan Dispora Matangkan Finalisasi Cabor Porprov Kaltim, Disusul Verifikasi Anggaran

“Untuk jaringan yang menjadi bagian dari program nasional, pendanaannya berasal dari APBN. Sementara perencanaan dan dukungan jaringan di tingkat daerah disiapkan melalui APBD,” katanya.

Tak hanya mengembangkan kereta api konvensional, Rencana Induk Perkeretaapian Provinsi juga membuka peluang penerapan teknologi transportasi modern yang lebih ramah lingkungan. Sejumlah moda yang masuk dalam perencanaan antara lain kereta listrik atau Electric Multiple Unit (EMU), Autonomous Rapid Transit (ART), kereta gantung (cable car), kereta berbasis teknologi magnetic levitation (maglev), hingga kereta berbahan bakar hidrogen.

Heru mengatakan pemilihan berbagai teknologi tersebut mempertimbangkan karakteristik geografis Kalimantan Timur yang terdiri atas kawasan dataran, perbukitan, hingga wilayah dengan kontur yang menantang. Dengan sistem transportasi yang terintegrasi, diharapkan konektivitas antarwilayah semakin baik sekaligus mampu mendukung pertumbuhan ekonomi dan pengembangan kawasan strategis di Kalimantan Timur. (*)

Reporter: Aditya Setiawan

Editor: Ramli

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Are you human? Please solve:Captcha