benuakaltim.co.id, SAMARINDA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Timur menduga faktor manusia turut menjadi pemicu tingginya kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah.
Selain kondisi lahan yang mengering akibat kemarau, BPBD mencermati adanya indikasi kebakaran yang dipicu kelalaian maupun tindakan sengaja dari masyarakat.
Kepala Pelaksana BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan, mengatakan dugaan tersebut muncul setelah pihaknya melihat pola kejadian karhutla di beberapa daerah.
Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kaltim hingga 26 Agustus 2026, Kabupaten Paser menjadi wilayah dengan kasus karhutla terbanyak, yakni mencapai 151 kejadian. Posisi berikutnya ditempati Kota Samarinda dengan 91 kejadian.
“Samarinda urutan kedua, padahal di sini enggak ada lahan, adanya di ujung-ujung. Nah, ini bisa jadi ada unsur kesengajaan atau kelalaian. Melakukan pembakaran yang tidak seharusnya,” ujar Buyung kepada benuakaltim.co.id.
Menurutnya, tingginya kasus di Samarinda menjadi perhatian karena karakter wilayah perkotaan tidak didominasi kawasan lahan luas seperti daerah lain.
Karena itu, selain memperkuat penanganan di lapangan, BPBD Kaltim mendorong peningkatan kesadaran masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas pembakaran yang berpotensi memicu kebakaran.
Buyung menilai kondisi cuaca panas dan lahan yang kering membuat api lebih mudah menyebar. Situasi tersebut akan semakin berisiko apabila masyarakat melakukan pembakaran tanpa pengawasan maupun tidak memastikan api benar-benar padam.
BPBD Kaltim bersama unsur terkait terus melakukan pemantauan dan penanganan terhadap titik-titik kebakaran. Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar dapat ditangani sedini mungkin.
Upaya pencegahan dinilai penting untuk menekan jumlah kejadian karhutla sekaligus mencegah kebakaran berkembang menjadi lebih luas di tengah kondisi kemarau. (*)
Reporter: Aditya Setiawan
Editor: Ramli






