benuakaltim.co.id, SAMARINDA – Pemerintah Kota Samarinda memutuskan menunda sementara pekerjaan fisik sodetan yang direncanakan untuk mengurai persoalan banjir di Kecamatan Loa Janan Ilir.
Penundaan dilakukan setelah rencana tersebut mendapat protes dari warga Desa Loa Janan Ulu, Kutai Kartanegara (Kukar). Pemkot memilih memberi waktu sekitar satu hingga dua pekan untuk memperkuat komunikasi dengan masyarakat maupun pemerintah daerah setempat.
Wali Kota Samarinda Andi Harun mengatakan, persoalan yang muncul bukan terletak pada substansi teknis rencana sodetan, melainkan komunikasi yang dinilai belum berjalan maksimal.
“Saya menilai masalahnya bukan di masalah substansial, tapi di masalah komunikasi,” kata Andi Harun.
Menurutnya, laporan mengenai perkembangan persoalan tersebut telah diterima dari Dinas Pekerjaan Umum, camat, lurah hingga Tim Wali Kota untuk Akselerasi Pembangunan (TWAP).
Andi Harun menegaskan rencana pembangunan sodetan bukan muncul secara tiba-tiba setelah terjadi banjir. Proyek tersebut merupakan bagian dari aspirasi masyarakat Loa Janan Ilir yang sejak lama meminta solusi terhadap genangan, khususnya di kawasan Perumahan Haji Saleh.
Berdasarkan kajian teknis yang dilakukan, ditemukan kondisi backwater, yakni aliran air dari arah Waduk Barito yang kembali masuk ke kawasan Tani Aman dan Loa Janan Ilir.
Kondisi itu diperparah dengan adanya bottleneck pada saluran air di sisi Jalan Poros Samarinda-Balikpapan.
“Kesimpulannya terjadi backwater, air kembali dari arah Waduk Barito milik provinsi yang ada di sekitar Tani Aman atau Loa Janan Ilir, masuk ke saluran yang pada saat itu mengalami bottleneck,” ujarnya.
Dari persoalan tersebut, sodetan kemudian dirancang sebagai salah satu rekayasa teknis untuk mengalirkan air sekaligus mengurangi tekanan pada kawasan yang selama ini terdampak banjir.
Andi Harun juga membandingkan rencana tersebut dengan sodetan yang sebelumnya dikerjakan di kawasan Jalan Rel, Kecamatan Samarinda Seberang. Setelah dilakukan penyodetan, kawasan tersebut disebut tidak lagi mengalami genangan seperti sebelumnya.
Namun, rencana di Loa Janan mendapat kekhawatiran dari warga Desa Loa Janan Ulu. Warga khawatir aliran air dari wilayah Samarinda justru menambah beban di kawasan mereka.
Andi Harun menyebut Pemkot Samarinda sebenarnya telah melakukan pembebasan lahan di sekitar jalur sodetan. Menurutnya, kekhawatiran yang muncul perlu dijawab melalui penjelasan mengenai desain dan fungsi teknis proyek.
Karena jalur sodetan berkaitan dengan wilayah Samarinda dan Kukar, komunikasi antarpemerintah menjadi bagian penting sebelum pekerjaan dilanjutkan.
Andi Harun mengaku telah berkomunikasi secara informal dengan Bupati Kukar Aulia Rahman. Meski demikian, komunikasi tersebut menurutnya perlu dilanjutkan hingga tingkat kecamatan, desa, kelurahan dan tokoh masyarakat.
“Jadi kegiatan itu adalah murni aspirasi masyarakat Loa Janan Ilir di kilo 3 itu,” katanya.
Ia menjelaskan, penanganan banjir tersebut berkaitan dengan aliran air dari kawasan HM Rifaiddin yang turut masuk ke kawasan Barito dan memberikan tekanan terhadap sistem aliran di Loa Janan Ilir.
Sebelumnya, penanganan tersebut telah masuk dalam perencanaan Pemerintah Provinsi Kaltim. Namun, ketika anggaran yang sebelumnya disiapkan tidak lagi tersedia, Pemkot Samarinda mengambil alih pembiayaannya.
“Saya memberilah arahan di APBD, kita jangan berhenti karena tidak ada anggaran. Kita yang ambil alih tanggung jawabnya, kita mengalokasi anggaran, teranggarankanlah kegiatan di situ,” tegasnya.
Andi Harun juga meminta kekhawatiran mengenai potensi banjir di wilayah Loa Janan Ulu tidak langsung dianggap sebagai dampak yang pasti terjadi. Menurutnya, persoalan tersebut perlu dibahas berdasarkan kajian teknis dan dikomunikasikan bersama masyarakat.
Untuk sementara, Pemkot Samarinda memilih tidak melanjutkan pekerjaan fisik sodetan. Andi Harun meminta jajarannya memberikan ruang sekitar satu hingga dua pekan untuk meredakan situasi sekaligus memperkuat komunikasi lintas wilayah.
“Saya pikir untuk sementara kita cooling down dulu. Kalau kita terus melanjutkan dalam kondisi sekarang, ada intensitas komunikasi yang diperlukan dilanjutkan, kurang bijak juga kan,” ujarnya.
Penundaan tersebut bukan berarti proyek dibatalkan. Andi Harun menyebut kontrak pekerjaan masih berlangsung hingga sekitar pertengahan Desember.
Ia juga meminta masyarakat Loa Janan Ilir yang sejak awal mengusulkan penanganan banjir ikut membantu membangun komunikasi dengan masyarakat Loa Janan Ulu.
Menurutnya, hubungan Samarinda dan Kukar tidak semestinya terganggu hanya karena persoalan batas wilayah administratif. Ia mencontohkan pelayanan air bersih di kawasan Loa Janan yang selama ini juga dilakukan oleh PDAM Kukar.
Andi Harun menegaskan, tujuan utama rencana sodetan adalah mencari solusi atas persoalan banjir yang selama ini dikeluhkan masyarakat. Karena itu, ia meminta seluruh pihak mencari titik temu sebelum pekerjaan kembali dilanjutkan.
“Padahal yang harus dicari adalah titik persamaannya,” pungkasnya. (*)
Reporter: Aditya Setiawan
Editor: Ramli






