benuakaltim.co.id, BERAU– Pembangunan fasilitas vital di RSUD Abdul Rivai, Berau, Kalimantan Timur, dipastikan mengalami hambatan serius.
Anggaran senilai miliaran rupiah yang semula dialokasikan untuk pengadaan lift terpaksa dikembalikan ke Kas Pemerintah Daerah (Pemda) setelah kontrak dengan vendor diputus sepihak.
Direktur RSUD Abdul Rivai, dr. Jusram, mengungkapkan keputusan pahit ini diambil lantaran performa vendor yang dianggap tidak profesional.
Jusram menjelaskan, pemutusan kontrak ini terjadi pada akhir tahun lalu. Ia menyebut distribusi barang dari pihak vendor sangat buruk, sehingga progres pengerjaan tidak berjalan sesuai rencana.
“Distribusinya mereka itu tidak bagus, jadi kami putus. Kami buat blacklist untuk vendornya,” ujar Jusram, Selasa (28/4/2026).
Langkah tegas ini diambil untuk menghindari kerugian negara yang lebih besar. Menurutnya, ada risiko tinggi jika pihak rumah sakit tetap melakukan pembayaran tanpa adanya kepastian barang sampai di lokasi.
“Itu risiko kami membayar tidak dapat barang. Jadi kami tidak bayar. Uangnya kami kembalikan ke Pemda,” tambahnya.
Dampak dari ketiadaan lift ini sangat signifikan. Padahal, lantai 2 dan lantai 3 RSUD Abdul Rivai telah disiapkan untuk menjadi pusat pelayanan medis kelas satu di Berau.
• Lantai 2: Direncanakan untuk instalasi bedah sentral.
• Lantai 3: Direncanakan untuk ruang ICU dengan kapasitas hingga 18 tempat tidur.
Jusram menegaskan, secara fisik bangunan, kedua lantai tersebut sebenarnya sudah siap digunakan. Namun, tanpa adanya lift, akses pasien dan petugas medis mustahil dilakukan.
“Itu sudah siap sebenarnya. Kalau liftnya sudah ada, itu sudah bisa dipakai. Tinggal aksesnya saja,” kata Jusram.
Pengembalian anggaran tersebut mencapai angka yang cukup fantastis, yakni berkisar antara Rp 4 hingga Rp 5 miliar.
Dana tersebut rencananya digunakan untuk pengadaan empat unit lift dengan spesifikasi berbeda sesuai standar operasional prosedur (SOP) rumah sakit.
“Kami butuh empat lift. Harus diatur ada lift kotor, lift bersih, lift pasien, dan lift petugas. Itu SOP-nya, tidak bisa dicampur,” jelasnya secara mendetail.
Agar fasilitas tersebut tidak mangkrak terlalu lama, pihak manajemen RSUD Abdul Rivai kini tengah mengupayakan bantuan anggaran dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.
Selain itu, mereka juga berharap anggaran yang sempat dikembalikan ke Pemda Berau bisa dialokasikan kembali.
“Kemarin kami mengajukannya ke Provinsi untuk bantuan lift. Harapannya mudah-mudahan (disetujui). Kedua, kami meminta kembali anggaran yang kami kembalikan kemarin,” tutup Jusram optimis.
Masyarakat Berau kini hanya bisa berharap agar birokrasi dan pengadaan fasilitas ini segera tuntas, mengingat keberadaan ruang ICU dan bedah sentral yang baru sangat dibutuhkan untuk meningkatkan layanan kesehatan di Bumi Batiwakkal. (*)
Reporter: Georgie Silalahi
Editor: Endah Agustina






