benuakaltim.co.id, BERAU – Potensi ekonomi di kampung-kampung (desa) wilayah Kabupaten Berau sejatinya sangat melimpah, terutama dari sektor pertanian.
Namun sayangnya, selama ini hasil produksi tersebut lebih banyak dinikmati untuk kebutuhan internal karena akses pemasaran yang masih terkunci.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) Berau, Tenteram Rahayu, mengungkapkan tantangan utama yang dihadapi masyarakat desa saat ini adalah konektivitas antara hasil produksi dengan pasar yang lebih luas.
“Bagaimana hasil-hasil ekonomi itu tidak hanya untuk jadi kebutuhan mereka sendiri. Bagaimana bisa dibuka peluang pemasaran ini,” ujar Tenteram, Jumat (24/4/2026).
Tenteram tidak memungkiri, infrastruktur jalan masih menjadi batu sandungan utama bagi warga desa untuk mendistribusikan hasil bumi mereka.
Selain masalah akses jalan, layanan kesehatan juga menjadi poin krusial yang perlu segera dibenahi dalam rencana pembangunan desa ke depan.
Ia menegaskan, diskusi mengenai pemenuhan hak dasar dan penguatan ekonomi ini masih terus berlangsung untuk merumuskan solusi yang komprehensif. Menyiasati keterbatasan anggaran atau efisiensi keuangan daerah, DPMK Berau berencana menyusun rencana aksi yang lebih taktis.
Salah satu strateginya adalah dengan memaksimalkan peran sektor swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan.
“Justru di situlah nanti kita bersama-sama pihak swasta. Kan ada beberapa perusahaan tuh di daerah Kelay yang nanti bisa kita ajak untuk berkontribusi untuk percepatan ini,” jelasnya.
Terkait isu sensitif mengenai lahan hak ulayat atau adat yang sering muncul di wilayah pedalaman, Tenteram menyatakan pihaknya tengah mengkaji hal tersebut dengan hati-hati agar pembangunan tetap berjalan selaras dengan hak-hak masyarakat lokal.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan perusahaan swasta, diharapkan hasil pertanian dan ekonomi kreatif dari kampung-kampung di Berau tidak lagi terisolasi, melainkan mampu bersaing di pasar yang lebih luas dan meningkatkan kesejahteraan warga secara signifikan. (*)
Reporter: Georgie Silalahi
Editor: Endah Agustina






