Misa’ Kada Di Potuo: Menenun Toleransi di Balik Batu Pertama Gereja Sinar Kasih

Suasana peletakan batu pertama pembangunan Gereja Sinar Kasih di Gang Sinar Pelita Jalan Sultan Agung. (Foto: Georgie/Benuakaltim)

benuakaltim.co.id, BERAU – Kabut tipis masih memeluk Gang Sinar Pelita, Jalan Sultan Agung, Tanjung Redeb. Di balik embun yang belum sepenuhnya luruh, sayup suara doa terdengar khidmat dari sebuah pelataran tanah.

Puluhan jemaat Gereja Sinar Kasih berkumpul, bukan untuk ibadah rutin, melainkan untuk menjemput sebuah mimpi yang telah lama dinanti, yakni pembangunan rumah Tuhan.

​Momen peletakan batu pertama tersebut menjadi titik balik bagi jemaat Gereja tersebut. Setelah sekian lama merindu, harapan itu akhirnya mewujud menjadi fondasi nyata.

​Legalitas dan Kemandirian

​Ketua Majelis Gereja Jemaat Sinar Kasih, Pendeta Miswar Ito Marthen, tampak tak kuasa menyembunyikan rasa syukur. Baginya, pembangunan ini adalah bukti ketaatan jemaat terhadap aturan negara sekaligus wujud kemandirian umat.

“Kami memulai pembangunan ini karena Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) nya sudah keluar,” ujar Pendeta Miswar dengan nada lega, Sabtu (18/04/2026)

Baca Juga :  DPUPR Pastikan Pembangunan Infrastruktur di Kelay Dimulai Tahun Ini

​Dana yang terkumpul merupakan buah dari tetesan keringat jemaat dan dukungan komunitas warga Toraja di Berau. Tidak ada kemewahan instan, yang ada hanyalah semangat gotong royong yang menjadi napas utama pembangunan ini.

​Potret Toleransi di Bumi Batiwakkal

​Namun, ada cerita yang lebih menyentuh di balik tumpukan material bangunan. Pembangunan Gereja Sinar Kasih ini menjadi saksi betapa indahnya keberagaman di Berau.

Toleransi tidak hanya manis di atas kertas, tapi nyata di lapangan.

​“Masyarakat Muslim di sini juga memberi perhatian. Kadang mereka memberi makanan saat ada kegiatan, bahkan memberikan sumbangan dana,” ungkap Pendeta Miswar haru.

​Ia pun berpesan agar semangat ini terus dijaga melalui filosofi “Misa’ Kada Di Potuo”—satu kata yang menghidupkan. Prinsip Si Angkaran atau saling mengangkat, menurutnya, adalah kunci agar jemaat tetap kokoh meski di tengah tantangan pembangunan.

Baca Juga :  Aksi Buruh Berujung Damai, Empat Karyawan di Berau Kembali Dipekerjakan

​Harapan dan Dukungan Keluarga Besar

Ketua Ikatan Keluarga Toraja (IKAT) Berau, Yan Saranga, yang turut hadir dalam prosesi tersebut, menyebut momen ini sebagai jawaban dari kerinduan panjang.

​”Puji syukur kepada Tuhan, akhirnya momen yang dirindukan jemaat tiba juga. Mereka kini sudah bisa melaksanakan peletakan batu pertama,” kata Yan.

​IKAT Berau menyatakan dukungan penuh agar pembangunan ini berjalan lancar. Namun, ia juga menaruh harapan besar pada perhatian pemerintah daerah. Meski dibangun secara swadaya, dukungan dari “tangan dingin” pemerintah tetap dinanti.

​”Harapan kami dari pemerintah semoga ada sentuhan bantuan. Kami sedang mengupayakan juga pengajuan proposal, semoga segera menemui titik terang,” pungkasnya.

Baca Juga :  Terbentur Efisiensi Anggaran, Perbaikan Jalan Long Beliu Kembali Tertunda

Di bawah langit Tanjung Redeb yang mulai terang, batu pertama itu kini tertanam. Ia bukan sekadar tanda dimulainya sebuah gedung, melainkan simbol persatuan dan ketulusan hati masyarakat Berau yang saling membantu dalam perbedaan.

Kegiatan peletakan batu pertama di Gereja Toraja Jemaat Sinar Kasih ini, dilakukan dengan pemancangan mini pile, yang disaksikan oleh jemaat yang hadir.

Hadir pula 3 tokoh IKAT, yang juga merupakan anggota DPRD Berau, yakni Grace Warastuty Langsa, Ratna Kalalembang dan Fery Kombong.

Selain itu, beberapa Pendeta dari berbagai Denominasi gereja yang ada di Kabupaten Berau, pengurus Bamag, Pengurus Klasis Kaltara Berau wilayah V Kalimantan dan beberapa warga sekitar. (*)

Reporter: Georgie Silalahi

​Editor: Ramli

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *