Dispora Kaltim Dorong Reformasi Pembinaan Olahraga di Tengah Tekanan Efisiensi Anggaran

Plt. Kepala Dispora, Rasman Rading saat memberikan keterangan kepada awak media. (FOTO: Aditya Setiawan)

benuakaltim.co.id, SAMARINDA – Keterbatasan anggaran yang tengah dihadapi pemerintah daerah menjadi tantangan sekaligus peluang untuk melakukan pembenahan menyeluruh dalam sistem pembinaan olahraga di Kaltim.

Kondisi tersebut mendorong Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kaltim untuk merancang strategi baru yang lebih efektif, terukur, dan berorientasi pada pencapaian prestasi jangka panjang.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dispora Kaltim, Rasman Rading, menilai bahwa situasi efisiensi anggaran tidak boleh dipandang sebagai hambatan semata.

Sebaliknya, kondisi tersebut harus dimanfaatkan sebagai momentum untuk melakukan transformasi tata kelola olahraga agar lebih adaptif terhadap tantangan yang ada.

Menurut Rasman, seluruh pemangku kepentingan olahraga di daerah, mulai dari organisasi olahraga hingga pengurus cabang olahraga, perlu mengubah pola pikir dalam menyusun dan menjalankan program pembinaan atlet.

“Situasi efisiensi anggaran yang sedang berlangsung harus menjadi pemicu perubahan. Kita dituntut untuk lebih taktis dan lebih teknis dalam mengelola program olahraga. Jangan sampai kita terlena dengan pola lama yang selama ini dianggap aman dan nyaman,” ujarnya pada Rabu (3/6/2026).

Rasman mengungkapkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim telah menggelontorkan dana hibah dalam jumlah besar untuk mendukung pembinaan olahraga melalui Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kaltim.

Namun demikian, ia menilai bahwa besarnya dukungan anggaran tersebut perlu diikuti dengan evaluasi yang komprehensif guna memastikan setiap program yang dijalankan mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan prestasi atlet dan cabang olahraga.

Baca Juga :  DPKH Kaltim Dorong Lahan Bekas Tambang Jadi Kawasan Peternakan Produktif

Ia menegaskan evaluasi tersebut bukan untuk mencari kesalahan ataupun menyalahkan pihak tertentu.

Fokus utama yang ingin dicapai adalah menemukan formula pembinaan yang lebih efektif dan sesuai dengan kondisi keuangan daerah saat ini.

“Yang menjadi perhatian kita bukan mencari siapa yang salah, tetapi bagaimana menyusun strategi yang tepat agar target pembinaan tetap berjalan meskipun kondisi fiskal daerah sedang terbatas,” katanya.

Lebih lanjut, Rasman menekankan pentingnya perencanaan pembinaan yang berkesinambungan untuk menghadapi ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) mendatang.

Menurutnya, persiapan menuju PON 2028 dan PON 2032 harus dilakukan secara bersamaan melalui tahapan yang sistematis dan berkelanjutan.

Dengan strategi yang tepat, pembinaan atlet tidak hanya diarahkan untuk mengejar prestasi jangka pendek, tetapi juga membangun fondasi kuat bagi kemajuan olahraga daerah dalam jangka panjang.

“Kita harus mampu menyusun langkah-langkah yang realistis sesuai kemampuan keuangan daerah, namun tetap menjaga target prestasi agar atlet-atlet Kaltim mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional,” jelasnya.

Pada tahun anggaran 2025, dana pembinaan olahraga yang tersedia tercatat sekitar Rp16,5 miliar.

Jumlah tersebut dinilai masih jauh dari kebutuhan ideal untuk mendukung seluruh program pembinaan yang direncanakan. Karena itu, Dispora Kaltim menilai penggunaan anggaran harus dilakukan secara lebih selektif dan tepat sasaran.

Setiap program yang dijalankan harus memiliki indikator keberhasilan yang jelas sehingga dana yang tersedia dapat memberikan hasil yang maksimal.

Baca Juga :  Disdikbud Kaltim Libatkan Masyarakat Awasi SPMB 2026

Langkah tersebut juga sejalan dengan visi Pemprov Kaltim Kaltim dalam menciptakan generasi unggul melalui pembangunan sumber daya manusia, termasuk di sektor olahraga.

Sebagai bagian dari reformasi pembinaan olahraga, Dispora Kaltim bersama KONI Kaltim sedang menyusun pola pembinaan baru yang berbasis klasifikasi atlet.

Jika sebelumnya pembinaan dilakukan dengan pendekatan yang relatif seragam, maka ke depan atlet akan dikelompokkan berdasarkan tingkat potensi dan capaian prestasi masing-masing.

Dalam skema tersebut, atlet akan dibagi ke dalam empat kategori utama, yaitu:
* Atlet Andalan
* Atlet Unggulan
* Atlet Harapan
* Atlet Pembinaan

Melalui sistem ini, pemerintah dan organisasi olahraga dapat lebih mudah menentukan prioritas program, kebutuhan pelatihan, hingga alokasi anggaran yang sesuai dengan potensi masing-masing atlet.

Rasman meyakini pendekatan tersebut akan membuat pembinaan menjadi lebih efektif karena sumber daya yang tersedia dapat difokuskan kepada cabang olahraga dan atlet yang memiliki peluang besar untuk meraih prestasi.

“Jika pola pembinaan masih menggunakan cara yang sama seperti sebelumnya, berapa pun anggaran yang tersedia akan habis tanpa hasil yang optimal. Karena itu kita harus lebih selektif dan lebih terukur dalam menentukan prioritas,” tegasnya.

Selain mendorong perubahan sistem pembinaan, Rasman juga mengingatkan KONI maupun pengurus provinsi cabang olahraga agar segera beradaptasi dengan kondisi keuangan daerah yang terus mengalami tekanan.

Ia mengaku memperoleh informasi bahwa anggaran olahraga pada tahun mendatang berpotensi mengalami penurunan dibandingkan tahun ini.

Baca Juga :  DPKH Kaltim Dorong Lahan Bekas Tambang Jadi Kawasan Peternakan Produktif

Situasi tersebut dinilai menjadi sinyal kuat bagi seluruh organisasi olahraga untuk mulai melakukan penyesuaian program dan strategi pembinaan.

Menurutnya, mempertahankan pola kerja lama di tengah keterbatasan anggaran hanya akan memperbesar risiko kegagalan dalam mencapai target prestasi.

“Tahun ini anggaran sudah sangat terbatas. Jika tahun depan kembali mengalami penurunan, maka kondisi tersebut akan menjadi tantangan yang lebih berat. Karena itu seluruh organisasi olahraga harus segera mengubah pola pikir dan menyesuaikan diri dengan situasi yang ada,” ujarnya.

Rasman menegaskan transformasi tata kelola olahraga kini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan yang harus segera diwujudkan.

Seluruh pemangku kepentingan dituntut untuk mampu mengelola sumber daya yang ada secara efisien tanpa mengorbankan target prestasi yang telah ditetapkan.

Ia berharap setiap rupiah yang digunakan dalam program pembinaan dapat memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kualitas atlet, pelatih, dan prestasi olahraga Kaltim secara keseluruhan.

“Dengan anggaran yang terbatas, kita harus memastikan seluruh program benar-benar memberikan dampak positif terhadap peningkatan prestasi olahraga daerah,” katanya.

Melalui penerapan strategi pembinaan berbasis prioritas dan klasifikasi atlet, Dispora Kaltim optimistis proses persiapan menuju PON 2028 dan PON 2032 dapat berjalan lebih efektif.

Selain menghasilkan prestasi dalam jangka pendek, sistem tersebut juga diharapkan mampu melahirkan atlet-atlet potensial yang siap bersaing di tingkat nasional hingga internasional secara berkelanjutan. (*)

Reporter: Aditya Setiawan

Editor: Ramli

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Are you human? Please solve:Captcha