Tenaga Ahli RSU Tanjung Redeb dari Unhas Sebut 3 Fondasi Naikkan Kelas RS

Tenaga Ahli RSU Tanjung Redeb dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Syahrir A. Pasinringi. (FOTO: GEORGIE/BENUAKALTIM.CO.ID)

benuakaltim.co.id, BERAU – Rencana pengembangan RSU Tanjung Redeb menjadi rumah sakit kelas Madya dan Utama terus digodok.

Tenaga Ahli RSU Tanjung Redeb dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Syahrir A. Pasinringi, menegaskan untuk menaikkan kelas rumah sakit menjadi Madya, Utama, hingga Paripurna, ada tiga fondasi yang tidak bisa ditawar.

“Dasarnya ada tiga: satu sarana prasarana (sarpras), dua SDM, dan tiga alat kesehatan. Itu harganya mati,” ujar Syahrir dalam diskusi strategi pengembangan rumah sakit baru-baru ini Sabtu (2/5/2026)

Syahrir memberikan saran menohok kepada Direktur terkait manajemen operasional.

Baca Juga :  Ahli dari UNHAS Ungkap Tantangan RSUD Tanjung Redeb: Butuh Dana Besar dan Proses Panjang

Ia meminta agar ada pembagian fokus layanan yang jelas antara unit-unit yang ada agar tidak terjadi persaingan internal yang tidak sehat.

“Saya sarankan nanti duduk bersama direkturnya. Jangan sama-sama layanannya. Harus ada yang unggul di RSU RA, dan ada yang di RSU AR. Supaya mereka jangan saling bersaing, tapi saling melengkapi,” tegasnya.

Menurutnya, strategi ini sangat penting untuk memastikan produktivitas tetap tinggi tanpa harus “membunuh” unit layanan lainnya.

Tak hanya bicara strategi makro, Syahrir juga membedah efisiensi tenaga kerja di RSU Tanjung Redeb.

Baca Juga :  Disdamkarmat Berau Evakuasi Sarang Tawon Vespa Raksasa di Kawasan Apt Pranoto

Dengan pendapatan sekitar Rp 95 miliar dan total 768 pegawai, ia mencatat rata-rata pendapatan per pegawai berada di angka Rp 123 juta.

Angka ini, menurutnya, masih di bawah standar minimal untuk rumah sakit kelas C yang idealnya menyentuh angka Rp 150 juta hingga Rp 200 juta per pegawai.

“Artinya apa? Masih perlu ditingkatkan produktivitasnya, atau memang pegawainya yang terlalu banyak,” sentil akademisi Unhas ini.

Selain masalah SDM dan pendapatan, Syahrir mengingatkan pentingnya penerapan sistem informasi elektronik.

Baca Juga :  Status KTA Madri Pani di Gerindra Berau Masih Tunggu Restu DPP

Ia mewanti-wanti kelalaian dalam digitalisasi bisa berdampak fatal pada status akreditasi rumah sakit.

“Sistem informasinya harus canggih. Kalau kita tidak pakai elektronik, kita bisa disanksi Kemenkes, akreditasi bisa turun,” tambahnya.

Ia mengakui mengelola rumah sakit adalah tugas yang sangat kompleks karena menyangkut nyawa manusia dan variabel anggaran yang terbatas.

Saat ini, pihaknya terus melakukan analisis mendalam terhadap data pasien rawat inap, rawat jalan, hingga klaim BPJS untuk memastikan setiap langkah pengembangan tepat sasaran. (*)

Reporter: Georgie Silalahi

Editor: Ramli

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *