benuakaltim.co.id, BERAU – Badan Penanggulangan Bencana Daerah melalui Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kabupaten Berau mencatat puluhan peristiwa kebakaran pemukiman sepanjang periode Januari hingga Mei.
Warga diimbau untuk tidak meremehkan faktor utama pemicu korsleting listrik yang kerap menjadi biang keladi bencana ini.
Kepala Disdamkarmat Berau, Rakhmadi Pasarakan, membeberkan data hingga bulan Mei, tercatat ada 29 kasus kebakaran pemukiman. Berdasarkan rinciannya, peristiwa kebakaran terjadi sebanyak 11 kasus pada Januari, 3 kasus pada Februari, 3 kasus pada Maret, 8 kasus pada April, dan 4 kasus pada Mei.
“Kalau kebakaran rata-rata korsleting ya. Dominan itu listrik terbesar,” ujarnya. Jumat (22/5/2026).
Menurut Rakhmadi, selain faktor kelalaian manusia (human error), kurangnya pemahaman masyarakat mengenai aturan instalasi listrik menjadi pemicu utama.
Ia mengingatkan, sesuai regulasi yang berlaku, instalasi listrik idealnya wajib diperiksa atau diperbarui secara berkala.
“Secara aturan kan instalasi listrik itu 4 tahun sekali harus dicek ulang. Terus banyak juga yang tidak sesuai standar,” jelasnya.
Berdasarkan pemetaan kerawanan wilayah, Disdamkarmat Berau membagi wilayah potensi kebakaran menjadi beberapa zonasi. Khusus untuk kebakaran pemukiman, wilayah perkotaan yang mencakup empat kecamatan masih mendominasi zona merah.
“Kalau untuk pemukiman, daerah perkotaan. Empat kecamatan kota juga, yaitu Tanjung Redeb, Teluk Bayur, Gunung Tabur, sama Sambaliung. Itu zona merah daerah kebakaran pemukiman,” papar Rakhmadi.
Sementara itu, untuk kategori Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), Disdamkarmat Berau menetapkan empat wilayah dengan status zona merah serupa, yakni Segah, Tabalar, Teluk Bayur, dan Tanjung Batu.
Selain masalah instalasi listrik, Rakhmadi juga menyoroti kendala klasik di lapangan, yakni kecepatan informasi yang diterima oleh petugas pemadam. Tak jarang, petugas baru menerima laporan ketika kondisi api sudah membesar.
“Kebakaran ini kecepatan informasi dari lokasi pelapor. Kadang-kadang apinya sudah besar, baru kita terima informasi,” katanya lagi.
Ia menceritakan, khusus di wilayah yang dekat dengan posko seperti Sambaliung, warga biasanya langsung berlari mendatangi posko tanpa menelepon terlebih dahulu saat melihat kobaran api. Untuk mengatasi kendala komunikasi ke depan, pihaknya tengah berkoordinasi dengan perusahaan telekomunikasi (Telkom).
Selama ini, nomor darurat kabel lokal 0554-21113 sering mengalami gangguan jaringan. Kendala lain adalah panggilan warga yang kerap terputus di tengah jalan akibat kehabisan pulsa.
“Hari ini teman-teman lagi koordinasi dengan Telkom karena nomor (0554) 21113 ini kadang bermasalah jaringannya. Kedua, ini kan pakai pulsa, kadang orang menelepon belum selesai sudah putus karena pulsanya habis. Makanya kami sudah programkan untuk pergantian ke nomor HP, yang ujungnya tetap 113,” pungkas Rakhmadi. (*)
Reporter: Georgie Silalahi
Editor: Endah Agustina






