benuakaltim.co.id, BERAU – Hasil pemantauan terbaru di Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kepulauan Derawan dan Perairan Sekitarnya (KKP3K KDPS), Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, membawa kabar baik bagi dunia konservasi.
Menggunakan teknologi pesawat nirawak (drone) beresolusi tinggi, tim peneliti berhasil mengidentifikasi ratusan individu penyu yang beraktivitas di kawasan tersebut.
Rangkaian pemantauan habitat dan populasi penyu ini diselesaikan oleh Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) bersama Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kalimantan Timur, Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak, serta kelompok masyarakat pegiat konservasi.
Kegiatan ini turut didukung oleh Program Solutions for Marine and Coastal Resilience in the Coral Triangle (SOMACORE).
Melalui survei udara di 12 lokasi, tim peneliti memanfaatkan citra udara resolusi tinggi dengan ketelitian spasial mencapai 1,5 hingga 5 sentimeter.
Resolusi super tajam ini memudahkan tim membedakan penyu secara akurat dari objek lain di bawah laut.
“Dalam survei udara, tim berhasil mengidentifikasi hingga 913 individu penyu di perairan pesisir wilayah KKP3K KDPS,” ujar Manajer Senior Perlindungan Laut YKAN, Yusuf Fajariyanto Sabtu (30/5/2026).
Menurut Yusuf, penyu-penyu tersebut teridentifikasi secara visual sedang berada di area perairan dangkal, padang lamun, hingga kawasan terumbu karang.
Selain memantau populasi lewat udara, tim juga memeriksa kondisi pesisir yang menjadi tempat penyu bertelur. Dari 27 titik pengamatan yang disurvei—termasuk Pulau Mataha, Bilang-bilangan, Sangalaki, Derawan, Teluk Sulaiman, hingga Balikukup—sebanyak 26 titik masuk dalam kategori hijau atau sangat sesuai untuk lokasi peneluran.
Pulau Mataha menjadi lokasi dengan nilai kesesuaian tertinggi. Kondisinya yang tidak berpenghuni membuat pulau ini minim polusi cahaya dan aktivitas manusia, sehingga menjadi lokasi yang sangat ideal bagi penyu untuk mendarat dan bertelur.
Meski sebagian besar habitat dalam kondisi baik , tantangan nyata seperti abrasi, kenaikan muka air laut, dan predator alami masih mengintai beberapa lokasi.
Sementara di kawasan padat penduduk seperti Pulau Derawan dan Balikukup, ancaman datang dari tumpukan sampah, pencahayaan buatan, serta tingginya aktivitas manusia di pesisir.
Di sisi lain, survei terhadap persepsi masyarakat lokal menunjukkan angin segar.
Mayoritas dari 75 nelayan yang diwawancarai di berbagai pulau memahami pentingnya keberadaan hewan bercangkang ini bagi keseimbangan ekosistem laut dan penunjang pariwisata.
Bahkan, sebanyak 98 persen responden sudah mengetahui bahwa berburu penyu adalah tindakan yang melanggar hukum atau ilegal.
Banyak di antara mereka yang menilai populasi penyu, khususnya penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik, kini mulai merangkak naik berkat adanya perlindungan hukum serta pengawasan yang ketat.
Kepala DKP Provinsi Kalimantan Timur, Irhan Hukmaidy, menegaskan bahwa data hasil pemantauan berbasis ilmiah ini akan menjadi fondasi penting bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan.
“Berau memiliki nilai ekologis yang sangat penting bagi dunia. Hasil ini menunjukkan habitat peneluran penyu perlu terus dijaga melalui pengelolaan kawasan konservasi yang kolaboratif bersama masyarakat,” pungkas Irhan. (*)
Reporter: Georgie Silalahi
Editor: Ramli






