Tambak Silvofishery Dongkrak Produksi Udang Windu Berau hingga 1.200 Ton per Tahun

Ilustrasi. (INTERNET)

benuakaltim.co.id, BERAU – Dinas Perikanan Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, terus memacu produktivitas sektor perikanan budidaya, khususnya udang windu. Melalui penerapan metode tambak silvofishery yang terintegrasi dengan ekosistem mangrove, produksi udang windu di wilayah ini tercatat telah menembus angka 1.200 ton per tahun.

Kepala Bidang Budidaya Dinas Perikanan Kabupaten Berau, Budiono, mengungkapkan tren produktivitas tambak masyarakat saat ini menunjukkan peningkatan yang cukup positif berkat pendampingan berkelanjutan.

“Untuk perkembangannya sekarang masih menunjukkan kecenderungan meningkat karena ada pendampingan dari teman-teman Yekan melalui program tambak ‘SECURE’. Ada peningkatan produktivitas,” ujar Budiono saat ditemui, Rabu (22/7/2026).

Budiono menjelaskan, konsep silvofishery diterapkan untuk mengoptimalisasi lahan tambak yang sudah ada. Konsep ini memadukan kegiatan budidaya ikan atau udang dengan kelestarian vegetasi mangrove. Kehadiran mangrove di area tambak dinilai sangat vital karena menyediakan unsur hara alami yang dibutuhkan oleh udang.

Baca Juga :  Kemiri Sunan Jadi Solusi Rehabilitasi Lahan Bekas Tambang Bernilai Ekonomi

“Seharusnya ada ekosistem mangrove di tambak untuk menambah ketersediaan unsur hara. Karena output-nya ini udang organik tanpa pakan buatan. Makanan udang diperoleh dari unsur hara mangrove itu sendiri,” jelasnya.

Dengan ekosistem yang terjaga, mikroorganisme seperti fitoplankton dan zooplankton dapat tumbuh subur dan menjadi pakan alami bagi udang serta biota tambak lainnya.

Saat ini, model pembinaan dan pendampingan tambak ramah lingkungan tersebut telah diterapkan di sejumlah kampung di Berau. Sentra Kawasan Pendampingan di Kampung Pegat Batumbuk, Suaran, dan Tabalar Muara dan Kampung Potensial di Kasai dan Semanting.

Baca Juga :  Job Fair Diadakan Akhir Juli ini di Ballroom SM Tower

Dinas Perikanan Berau menargetkan model ini dapat direplikasi ke tambak-tambak tradisional atau konvensional milik masyarakat secara lebih luas. Meskipun tidak menetapkan target kuota ekspor secara spesifik, Dinas Perikanan optimistis target produksi budidaya tambak secara keseluruhan, yang menggabungkan udang windu, ikan bandeng, dan kepiting, dapat mencapai target kisaran 2.300 ton.

“Pesan dari Pak Niko (mitra/pemangku kepentingan) adalah kolaborasi dengan pemerintah daerah, mitra pembangunan, serta peningkatan pemberdayaan masyarakat dengan tetap melestarikan lingkungan berbasis mangrove,” tambah Budiono.

Selain fokus pada produksi tambak, Dinas Perikanan Berau juga menyiapkan langkah strategis untuk mendukung akses pangan bergizi bagi masyarakat. Guna mendukung peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas), pihaknya menggelar program Pasar Ikan Murah pada 23 Juli di Taman Parahiyangan (depan Mitra Klasik).

Baca Juga :  Komunitas Penyelam Berau Divers Kecam Aksi Nelayan Asing Tangkap Hiu Dijadikan Umpan Pancing

Melalui program Pasar Ikan Murah ini, Dinas Perikanan Berau menyasar tiga target utama:
1. Penurunan angka stunting melalui kecukupan gizi anak dan ibu hamil.
2. Peningkatan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan).
3. Pengendalian angka inflasi daerah.

“Harapannya masyarakat bisa menikmati ikan dengan harga murah. Kandungan gizi seperti omega dan vitamin pada ikan sangat penting untuk usia dini, ibu menyusui, dan generasi muda,” tutur Budiono.

Ke depan, Dinas Perikanan Berau merencanakan perluasan program Pasar Ikan Murah hingga ke kawasan pelosok dan daerah rawan pangan. Kendala utama seperti mobilitas transportasi logistik akan disiasati melalui komunikasi interaktif dengan pemerintah kampung setempat. (*)

Reporter: Georgie Sihaloho

Editor: Endah Agustina

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Are you human? Please solve:Captcha