Pansus LKPJ Soroti Pengurangan Jumlah Pipa di TPA Sambutan, Minta Penjelasan Teknis

Suasana di TPA Sambutan Kota Samarinda.(FOTO: Aditya Setiawan)

benuakaltim.co.id, SAMARINDA – Proyek pembangunan sanitary landfill zona 2 di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sambutan, Kota Samarinda, menuai sorotan dari Panitia Khusus (Pansus) LKPJ DPRD Samarinda. Pasalnya, terjadi perubahan pada jumlah titik pipa dari rencana awal 25 titik menjadi hanya 9 titik.

Temuan ini mencuat saat Pansus LKPJ melakukan inspeksi lapangan guna mencocokkan laporan pelaksanaan kegiatan tahun anggaran 2025 dengan kondisi riil di lokasi.

Wakil Ketua Pansus LKPJ, Abdul Rohim, mengungkapkan bahwa perubahan spesifikasi tersebut belum pernah disampaikan kepada DPRD sebelumnya, sehingga memunculkan tanda tanya.

Baca Juga :  Hak Angket Mengemuka, Rudy Mas’ud Persilakan DPRD Uji Kebijakan Pemprov

“Awalnya direncanakan 25 titik pipa, tapi di lapangan hanya ada 9 titik. Perubahan ini belum pernah dikomunikasikan ke kami,” ujarnya usai peninjauan, Senin (27/4/2026).

Ia menegaskan, setiap perubahan desain dalam proyek strategis seperti pengelolaan sampah harus memiliki dasar yang jelas dan tidak boleh menurunkan kualitas fungsi, terutama dalam pengelolaan gas metana dan limbah lindi.

“Desain awal tentu sudah melalui kajian teknis. Jadi ketika ada pengurangan, harus dipastikan tidak berdampak pada kualitas pengelolaan sampah,” tegasnya.

Baca Juga :  Gubernur Kaltim Tegaskan Tak Ada Intervensi dalam Pemilihan Ketua Kadin

Menanggapi hal tersebut, Kepala UPTD Pengelolaan Sampah DLH Samarinda, Arief, menjelaskan bahwa penyesuaian jumlah pipa dilakukan berdasarkan kondisi teknis di lapangan.

Menurutnya, dengan luas area sekitar 1 hektare, sembilan titik pipa dinilai sudah mencukupi. Selain itu, diameter pipa juga ditingkatkan menjadi 8 inci untuk mengoptimalkan fungsinya.

“Pertimbangannya teknis. Dengan luasan tersebut, 9 titik sudah cukup. Diameter pipa juga diperbesar, jadi fungsi tetap optimal,” jelasnya.

Baca Juga :  Gerindra Ingatkan Gubernur, Agus Suwandy: Kritik Ini Demi Jaga Kaltim Tetap Kondusif

Ia menambahkan, pengaturan jarak antar pipa juga mempertimbangkan mobilitas alat berat di lokasi agar operasional tetap berjalan lancar.

“Tidak perlu terlalu banyak titik. Yang penting aliran gas bisa terakomodasi dengan baik,” tambahnya.

Sebagai informasi, metode sanitary landfill merupakan sistem pengelolaan sampah modern dengan cara memadatkan sampah, menimbunnya di area tertentu, lalu menutupnya secara berkala menggunakan tanah untuk meminimalisir dampak lingkungan. (*)

Reporter: Aditya Setiawan

Editor: Ramli

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *