Wabup Berau Gamalis Hadir Tradisi Buang Naas

Wakil Bupati Berau Gamalis melakukan siram atau buang naas yang merupakan tradisi adat Tulak Bala di Kecamatan Talisayan.(FOTO: ISTIMEWA)

benuakaltim.co.id, BERAUDi tengah derasnya perkembangan zaman, masyarakat Talisayan, Kabupaten Berau, masih mempertahankan tradisi bahari yang diwariskan secara turun-temurun.

Adat Bahari Tulak Bala Buang Naas kembali digelar di Kecamatan Talisayan sebagai wujud menjaga warisan budaya sekaligus mempererat kebersamaan masyarakat.

Mengusung tema “Merawat Silaturahmi, Melestarikan Adat Bahari untuk Talisayan Berkah dan Harmoni”, tradisi tersebut menjadi pembuka rangkaian peringatan HUT Kampung Talisayan sekaligus HUT ke-81 Republik Indonesia.

Kepala Kampung Talisayan, Ali Wardana, mengatakan, Tulak Bala Buang Naas bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi bagian dari identitas budaya masyarakat yang sejak dahulu hidup berdampingan dengan laut.

“Karena masyarakat Talisayan sangat dekat dengan laut, kami berharap seluruh aktivitas masyarakat di pesisir selalu diberikan perlindungan dan keselamatan. Tradisi ini juga menjadi sarana silaturahmi sekaligus identitas daerah,” ujarnya.

Salah satu prosesi yang menjadi bagian penting dalam tradisi tersebut yakni Buang Naas, ditandai dengan penyiraman air linjuang kepada perwakilan anak masyarakat kampung.

Air tersebut sebelumnya telah disiapkan dan dibacakan doa.

Prosesi diawali tetua adat, kemudian dilanjutkan Wakil Bupati Berau Gamalis bersama pejabat dan unsur masyarakat yang hadir.

Bagi masyarakat Talisayan, prosesi tersebut mengandung makna spiritual dan sosial.
Doa bersama menjadi ikhtiar untuk memohon keselamatan serta menjauhkan kampung dari berbagai marabahaya.

Sementara, pelaksanaan secara bersama-sama menjadi ruang untuk memperkuat hubungan antarmasyarakat.

Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengapresiasi masyarakat Talisayan yang masih konsisten mempertahankan adat bahari tersebut.
Menurutnya, tradisi lokal merupakan warisan yang tidak boleh hilang hanya karena perkembangan zaman.

“Ini bagian dari kebudayaan masyarakat Talisayan yang harus kita jaga. Kita ingin masyarakat terus maju, tetapi tidak kehilangan jati dirinya,” katanya.

Gamalis menilai tantangan pelestarian budaya semakin besar seiring perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi melalui media sosial.

Karena itu, keterlibatan generasi muda menjadi penting agar pengetahuan mengenai adat tidak berhenti pada generasi saat ini.

Ia mendorong agar generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut terlibat dalam setiap kegiatan adat.

Dengan begitu, tradisi dapat dipahami bukan hanya sebagai ritual tahunan, melainkan sebagai bagian dari identitas dan nilai kehidupan masyarakat.

Selain menjaga budaya, Gamalis melihat tradisi bahari Talisayan memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai bagian dari daya tarik wisata pesisir selatan Berau.

Kekayaan adat, menurutnya, dapat berjalan beriringan dengan pengembangan pariwisata tanpa menghilangkan nilai asli yang melekat di dalamnya.

Tradisi Tulak Bala Buang Naas bukan hanya menjadi penanda sebuah perayaan.
Lebih dari itu, ia menjadi pengingat bahwa kemajuan daerah tetap membutuhkan akar budaya yang kuat agar masyarakat Talisayan dapat berkembang tanpa kehilangan warisan yang membentuk jati dirinya. (*)

Reporter: Georgie Sihaloho

Editor: Ramli

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Are you human? Please solve:Captcha