Debit Mahakam Menyusut, Wali Kota Samarinda Imbau Warga Hemat Air

Wali Kota Samarinda, Andi Harun. (FOTO: Aditya Setiawan)

benuakaltim.co.id, SAMARINDA – Pemerintah Kota Samarinda meminta masyarakat menghemat penggunaan air bersih di tengah kemarau panjang yang menyebabkan debit Sungai Mahakam terus menyusut.

Kondisi tersebut turut berdampak terhadap operasional sejumlah fasilitas penyadapan atau intake air bersih di wilayah Palaran, Pulau Atas, Bukuan dan Bantuas.

Wali Kota Samarinda, Andi Harun, mengatakan selain penurunan debit air, peningkatan kadar klorida di Sungai Mahakam juga menjadi perhatian karena berkaitan dengan kualitas air yang akan didistribusikan kepada masyarakat.

“Kalau kadar klorida sudah melewati batas 250 ppm, operasional harus dihentikan karena ini menyangkut standar kesehatan air bersih,” kata Andi Harun.

Menurutnya, kadar klorida di Sungai Mahakam masih mengalami perubahan mengikuti kondisi pasang dan surut. Karena itu, masyarakat diminta tidak panik, namun tetap menggunakan air secara bijak.

“Pemkot Samarinda terus memantau situasi agar pelayanan air bersih tetap berjalan dan penghentian operasional intake tidak berlangsung lama,” ujarnya.

Pemkot Samarinda juga telah menetapkan status darurat kekeringan selama 14 hari sebagai langkah antisipasi terhadap kondisi kemarau yang berkembang cukup cepat.

Andi menjelaskan terdapat empat level kerawanan kekeringan di Samarinda, yakni normal, waspada, siaga dan kritis. Saat ini kondisi Samarinda telah bergerak dari fase normal menuju status siaga.

Selain krisis air bersih, kemarau panjang turut meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Samarinda.

Andi mengingatkan sebagian besar kejadian karhutla yang terjadi diduga bukan semata-mata akibat faktor alam, tetapi juga dipicu tindakan manusia yang sengaja melakukan pembakaran.

Karena itu, ia meminta masyarakat ikut berperan dalam mencegah kebakaran dengan meningkatkan pengawasan di lingkungan masing-masing.

“Patroli mandiri selama 24 jam di lingkungan masing-masing sangat penting. Masyarakat harus ikut mengawasi agar tidak ada aktivitas pembakaran yang bisa memicu kebakaran lebih besar,” katanya.

Pemkot Samarinda juga memanfaatkan jaringan kamera pengawas (CCTV) melalui program Pro Bebaya yang tersebar di berbagai kawasan. Keberadaan CCTV tersebut dinilai membantu pemerintah dan aparat dalam melakukan deteksi dini terhadap aktivitas mencurigakan, termasuk dugaan pembakaran lahan.

Dampak kemarau juga mulai dirasakan dari sisi kesehatan. Andi menyebut kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada Agustus 2026 mengalami peningkatan sebesar 22,08 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Kondisi udara yang lebih berdebu menjadi salah satu perhatian pemerintah. Masyarakat pun diminta kembali membiasakan penggunaan masker, khususnya ketika beraktivitas di luar ruangan.

Selain menjaga kesehatan, warga juga diimbau menyiapkan cadangan air bersih secukupnya dan menggunakan air secara hemat selama kondisi kekeringan masih berlangsung.

Pemerintah Kota Samarinda memastikan pemantauan terhadap kondisi Sungai Mahakam, kualitas air, karhutla dan dampak kesehatan akibat kemarau terus dilakukan secara berkala. (*)

Reporter: Aditya Setiawan

Editor: Ramli

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Are you human? Please solve:Captcha