benuakaltim.co.id, SAMARINDA – Kondisi kemarau yang masih melanda Kalimantan Timur (Kaltim) menjadi perhatian berbagai pihak. Di tengah minimnya curah hujan dan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kaltim menggelar Salat Istisqa di halaman Kantor PWI Kaltim, Jalan Biola, Samarinda, Senin (7/9/2026).
Salat Istisqa digelar sebagai bentuk ikhtiar memohon kepada Allah SWT agar hujan segera turun dan kondisi kekeringan yang terjadi dapat berakhir.
Ketua PWI Kaltim, Abdurrahman Amin, mengatakan kemarau panjang telah memberikan dampak terhadap berbagai sektor kehidupan masyarakat. Karena itu, menurutnya, penanganan kondisi tersebut perlu dilakukan melalui pendekatan sains sekaligus spiritual.
“Ini kegiatan ikhtiar kita secara spiritual. Karena kita tahu bahwa kekeringan ini adalah bencana. Jadi ada dua pendekatan, secara sains dan secara spiritual,” ujar Rahman, sapaan akrab Abdurrahman Amin.
Ia menyebut Salat Istisqa merupakan salah satu ibadah yang dianjurkan ketika menghadapi kemarau berkepanjangan. Selain persoalan ketersediaan air, musim kering juga meningkatkan ancaman karhutla yang kemudian berimbas terhadap kualitas udara.
“Salat Istisqa ini memang diajarkan dan dianjurkan ketika terjadi kemarau panjang. Kondisi ini sudah berdampak ke banyak sektor kehidupan masyarakat di Kaltim,” katanya.
Rahman menambahkan, PWI Kaltim sebagai organisasi profesi wartawan juga memiliki peran dalam menyikapi persoalan kebencanaan. Peran tersebut dapat dilakukan melalui pemberian informasi dan edukasi kepada masyarakat, sekaligus menyampaikan masukan maupun kritik terhadap kebijakan pemerintah.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri, mengapresiasi pelaksanaan Salat Istisqa yang digelar PWI Kaltim. Ia berharap ikhtiar dan doa yang dilakukan bersama dapat segera mendapat jawaban dengan turunnya hujan.
“Kita mengucapkan terima kasih kepada PWI Kaltim yang telah mengadakan Salat Istisqa bersama di halaman PWI Kaltim ini. Semoga permohonan kita kepada Allah dikabulkan dan segera diturunkan hujan,” ungkap Saefuddin.
Ia juga meminta masyarakat tidak berhenti berdoa dan memohon turunnya hujan, baik melalui kegiatan bersama maupun secara pribadi.
“Marilah kita sama-sama memohon kepada Allah SWT, bukan hanya saat salat ini, tetapi di tempat lain juga kita memohon kepada Allah SWT semoga segera diberikan hujan dan keberkahan,” tuturnya.
Selain persoalan kekeringan, Saefuddin mengingatkan masyarakat agar tidak lengah terhadap potensi karhutla. Kondisi lahan yang kering membuat penggunaan api harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian.
“Masyarakat tentunya harus berhati-hati terkait penggunaan api khususnya di wilayah kering. Berharap juga kewaspadaan kita dapat mencegah potensi kebakaran lahan yang sedang marak terjadi,” tegasnya.
Kemarau juga berdampak pada pengelolaan air baku untuk kebutuhan masyarakat Samarinda. Saefuddin mengatakan kondisi sumber air untuk produksi air minum turut mengalami perubahan akibat kondisi lingkungan.
Salah satu contohnya terjadi di IPA Bantuas yang sempat menjalankan sistem operasi on-off. Hal itu berkaitan dengan intrusi air laut ke Sungai Mahakam yang masuk hingga wilayah hulu dan menyebabkan kadar klorida meningkat hingga melampaui batas 250 PPM.
“Intrusi air laut juga ini perlu diperhatikan, erat kaitannya dengan kebutuhan harian termasuk air minum. Kemarin IPA daerah Bantuas juga sempat terdampak hingga menerapkan sistem on-off,” jelasnya.
Dengan kondisi tersebut, Saefuddin mengajak masyarakat untuk tidak menggunakan air secara berlebihan. Menurutnya, keterbatasan sumber daya air perlu disikapi bersama demi memenuhi kebutuhan seluruh warga.
“Untuk pemakaian air juga kita harus bijak dalam memanfaatkannya. Semoga situasi ini bisa segera pulih dan untuk air ini dapat kembali dimanfaatkan oleh seluruh warga Kota Samarinda,” pungkasnya. (*)
Reporter: Aditya Setiawan
Editor: Ramli






