Dari Abrasi hingga Minim MCK, Kakam Pulau Derawan Buka Suara soal Fasilitas Wisata yang Terabaikan

Kepala Kampung (Kakam) Pulau Derawan, Indra Mahardika. (FOTO: GEORGIE/BENUAKALTIM)

benuakaltim.co.id, BERAU – Sejumlah persoalan mendasar di kawasan wisata populer Pulau Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, kembali disorot tajam.

Kepala Kampung (Kakam) Pulau Derawan, Indra Mahardika, dengan tegas menyuarakan keluh kesahnya terkait lambannya realisasi infrastruktur pariwisata, mulai dari penanganan abrasi, fasilitas Mandi, Cuci, Kakus (MCK), hingga ketersediaan jaringan listrik dan chamber (ruang dekompresi) bagi penyelam.

Indra mengungkapkan, sejumlah regulasi dan perizinan kelautan sebenarnya telah lama tuntas. Namun, realisasi di lapangan dinilai jalan di tempat dan terkesan diabaikan oleh instansi terkait.

“Padahal izin-izinnya itu sudah beres semua, mulai dari persetujuan kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang laut (PKKPRL) hingga bongkar muat. Tinggal anggarannya saja yang tidak kunjung ada,” ujar Indra saat memberikan keterangan, Jumat (16/10/2026).

Baca Juga :  Kapal Wisata Tak Berizin Buang Jangkar Perairan di Maratua, Terumbu Karang Terancam

Salah satu sorotan utama Indra adalah persoalan abrasi yang telah menggerus garis pantai Pulau Derawan hingga ratusan meter sejak tahun 2005. Menurutnya, meski kawasan pesisir lain sudah mulai ditangani, Pulau Derawan justru luput dari perhatian serius pemerintah daerah maupun pusat.

Tidak hanya abrasi, fasilitas MCK di destinasi wisata internasional tersebut juga menjadi sorotan tajam. Indra menceritakan, wisatawan kerap mengeluhkan keterbatasan fasilitas sanitasi yang layak.

Baca Juga :  Butuh Rp 65 Miliar Pasang Pipa Malakut-Tanjung Batu, Perumda Batiwakkal Harapkan Dukungan Provinsi

“Bayangkan, wisatawan harus menahan buang air karena fasilitas MCK yang ada tidak memadai atau bahkan tidak berfungsi dengan baik. Kalaupun ada, jumlahnya sangat jauh dari kata cukup untuk melayani ribuan wisatawan yang datang setiap bulannya,” keluh Indra.

Selain sanitasi dan abrasi, Indra juga menyoroti ketersediaan pasokan listrik yang kerap menjadi kendala bagi para pelaku usaha pariwisata, seperti resort dan penginapan di Pulau Derawan. Persoalan krusial lainnya menyangkut keselamatan wisatawan penjelajah bawah air (wisatawan diving).

Hingga kini, fasilitas chamber atau ruang dekompresi darurat bagi penyelam di Pulau Derawan masih menjadi PR besar yang belum terealisasikan secara optimal. Padahal, pulau ini dikenal sebagai salah satu surga diving kelas dunia yang mendatangkan ribuan penyelam mancanegara setiap tahunnya.

Baca Juga :  Terkendala Jaringan Pipa dan Pengolahan, Embung Maratua Belum Salurkan Air ke Masyarakat

Pihak Kampung Pulau Derawan berharap pemerintah daerah dan instansi terkait tidak tinggal diam dan segera merealisasikan pembangunan infrastruktur penunjang pariwisata tersebut secara nyata.

“Kami minta kepada pihak berwenang untuk serius melihat kondisi ini. Jangan sampai potensi wisata internasional Pulau Derawan meredup hanya karena persoalan infrastruktur dasar yang tidak kunjung tuntas,” pungkas Indra. (*)

Reporter: Georgie Sihaloho

Editor: Endah Agustina

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Are you human? Please solve:Captcha