BERAU – Di balik pesona bahari Kabupaten Berau yang tersohor hingga mancanegara, tersimpan sebuah cerita mendalam tentang bagaimana manusia merajut harmoni dengan lautan. Bukan sekadar hobi menyelam, lautan Berau kini disorot dalam sebuah gerakan literasi dan kesadaran ekologis yang dikemas lewat seminar bertajuk Breath of Berau.
Digelar di Pour Cafe, Tanjung Redeb, kegiatan yang diinisiasi oleh komunitas Berau Divers ini sukses memantik perhatian publik. Acara ini tidak hanya memamerkan keindahan bawah laut, tetapi juga mengupas tuntas sisi lain dunia freediving, mulai dari prosedur keselamatan yang ketat hingga pelestarian ekosistem pesisir.
Seminar Breath of Berau menghadirkan tiga narasumber dengan perspektif unik yang saling melengkapi. Sesi pembuka langsung menghentak kesadaran peserta mengenai pentingnya aspek keselamatan atau dive safety dalam dunia freediving.
Erga Pangesea dari Apnea Experience menegaskan keindahan bawah laut tidak boleh dinikmati dengan mengabaikan risiko. Penerapan buddy system, kedisiplinan, serta pemahaman mendalam tentang teknik menahan napas dan manajemen risiko adalah harga mati sebelum seseorang memutuskan menyelam.
“Keselamatan merupakan fondasi utama sebelum seseorang mengeksplorasi dunia bawah laut,” ungkapnya Jumat (23/10/2026).
Tak berhenti pada teknik bertahan di dalam air, tirai keindahan bawah laut Berau, termasuk kawasan Maratua, kemudian dibedah melalui kacamata seni oleh Ivandrian Gunawan.
Pemilik Green Nirvana Resort sekaligus spesialis underwater photography and videography ini menunjukkan bagaimana bidikan lensa mampu berbicara lebih lantang.
“Dokumentasi visual terbukti ampuh untuk mengabadikan sekaligus memperkenalkan potensi wisata bahari Berau ke khalayak yang lebih luas,” bebernya.
Namun, di balik keelokan visual dan ketegangan aksi freediving, ada satu hal mutlak yang menjadi fondasi utama konservasi.
Kepala UPTD KKP3K KDPS Berau, Didik Riyanto, mengingatkan keindahan bawah laut mustahil bertahan tanpa keseimbangan ekosistem dan perlindungan biota di dalamnya.
Didik mengajak seluruh elemen masyarakat, komunitas, hingga pelaku wisata bahari untuk bergandengan tangan menjaga kelestarian lingkungan. “Pemanfaatan sumber daya laut harus berjalan beriringan dengan komitmen keberlanjutan demi generasi mendatang,” ujarnya.
Pesan inti dari Breath of Berau pun terangkum sempurna yaitu nikmati lautnya dengan aman, abadikan keindahannya secara bertanggung jawab, dan ambil bagian dalam menjaganya. Berau Divers membuktikan komunitas lokal mampu menjadi motor penggerak kesadaran lingkungan.
Lebih dari sekadar ajang diskusi, Breath of Berau menjadi panggilan terbuka bagi siapa saja untuk mengenal laut Berau lebih dekat, bukan sekadar sebagai destinasi wisata, tetapi sebagai rumah bersama yang wajib dijaga kelestariannya. (*)
Reporter: Georgie Sihaloho
Editor: Endah Agustina






