benuakaltim.co.id, BERAU – Pemerintah Kabupaten Berau melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata terus mematangkan strategi untuk menggenjot daya tarik objek wisata Air Panas Pemapak. Tak hanya mengandalkan pemandangan alam, kawasan ini bakal dikembangkan dengan menjual narasi storytelling hingga wacana pembukaan operasional malam hari.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Kabupaten Berau, Yudha Budisantosa, menyampaikan penguatan aspek storytelling atau sejarah lokal menjadi salah satu elemen kunci untuk melengkapi daya tarik wisata tersebut.
“Kita disuruh melengkapi dengan suatu cerita-cerita. Jadi sebagai daya tariknya, ada cerita di balik Air Panas Pemapak itu. Baik cerita misterinya, cerita religi, hingga cerita tentang kesehatan,” ujar Yudha Budisantosa saat ditemui awak media, Jumat (24/7/2026).
Menurut Yudha, banyak potensi cerita lokal yang bisa dirangkum, seperti sejarah penemuan lokasi, kebiasaan masyarakat sekitar, hingga kesaksian pengunjung yang mengklaim mengalami kesembuhan usai melakukan terapi air panas di sana.
“Orang yang pernah menggunakan terapi itu dan mengalami kesembuhan, itu semua disuruh merangkum dalam satu cerita sehingga menjadi bagian dari promosi,” tambahnya.
Selain narasi cerita, pengembangan infrastruktur penunjang juga menjadi perhatian utama. Pihaknya tengah mempelajari potensi pembukaan fasilitas penginapan agar wisatawan dapat menikmati suasana terapi di malam hari.
“Malam hari pun kalau bisa dibuka untuk terapi. Kadang malam orang ingin istirahat, ingin berobat untuk ketenangan. Kami pelajari dulu kemungkinannya,” jelas Yudha.
Selama ini, tingkat kunjungan wisatawan ke Air Panas Pemapak masih didominasi pada momen libur panjang (peak season). Dengan adanya terobosan baru ini, diharapkan angka kunjungan tetap stabil pada hari-hari biasa (weekday). Untuk mewujudkan wacana tersebut, Pemerintah Kabupaten Berau membuka pintu seluas-luasnya bagi pihak swasta maupun masyarakat lokal untuk berinvestasi dan berkolaborasi.
“Kami ingin menawarkan juga kalau ada pihak ketiga yang ingin membangun pondokan, kami sangat menyambut. Karena tidak bisa terus-menerus mengandalkan pemerintah,” terang Yudha Budisantosa.
Sebagai langkah awal sebelum masuknya investasi besar, Yudha menyarankan pengelola dan masyarakat sekitar untuk memanfaatkan rumah warga menjadi homestay. “Paling tidak ada homestay dulu. Rumah-rumah yang ada di sekitar situ bisa difungsikan kamar-kamarnya untuk penginapan wisatawan,” pungkasnya. (*)
Reporter: Georgie Sihaloho
Editor: Endah Agustina






