benuakaltim.co.id, SAMARINDA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mulai menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Kalimantan Timur (Kaltim) untuk membantu mengatasi penurunan cadangan air Waduk Sepaku sekaligus menekan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Pelaksanaan OMC melibatkan sejumlah pihak, di antaranya Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN), TNI Angkatan Udara, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Pemerintah Provinsi Kaltim.
Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG Budi Harsoyo mengatakan, OMC bukan bertujuan menciptakan hujan secara langsung. Teknologi tersebut digunakan untuk mengoptimalkan awan yang memang tersedia di atmosfer.
“Modifikasi cuaca bukan membuat hujan, tetapi mengoptimalkan potensi awan yang tersedia. Apabila kondisi awan mendukung, penyemaian awan dilakukan sehingga mempercepat proses turunnya hujan serta bisa memperluas areanya,” kata Budi di Kantor Gubernur Kaltim, Senin (24/8/2026).
Kondisi cuaca Kaltim saat ini menjadi perhatian karena sejumlah wilayah mengalami periode tanpa hujan cukup panjang. Berdasarkan data hingga 20 Agustus 2026, beberapa daerah berada pada kategori Hari Tanpa Hujan (HTH) sangat pendek hingga panjang.
Durasi terlama tercatat di Kabupaten Kutai Barat dan Paser yang telah mengalami 28 hari berturut-turut tanpa hujan.
Di sisi lain, cadangan air Waduk Sepaku yang menjadi salah satu sumber air baku untuk kawasan IKN terus menurun sejak Juli akibat kondisi cuaca yang dipengaruhi El Nino.
Ancaman karhutla juga masih cukup tinggi. BMKG mencatat sebanyak 13.273 titik panas terdeteksi di Kaltim sepanjang 1-23 Agustus 2026.
Budi mengatakan potensi pertumbuhan awan pada 23-31 Agustus masih berada pada kategori sedang hingga tinggi, terutama di wilayah utara Kaltim. Namun, peluang tersebut diperkirakan menurun memasuki 28-31 Agustus.
Untuk periode 24-26 Agustus, hujan ringan hingga sedang masih berpotensi terjadi di wilayah barat, barat laut dan utara Kaltim. Setelah itu, intensitas serta sebaran hujan diperkirakan turun cukup signifikan mulai 27 Agustus hingga 1 September.
Pelaksanaan OMC tidak hanya mempertimbangkan banyaknya titik panas. BMKG juga melihat ketersediaan dan perkembangan awan yang berpotensi disemai di wilayah sasaran.
Untuk kawasan IKN, OMC telah berlangsung sejak 22 hingga 27 Agustus dengan sasaran utama membantu meningkatkan kembali volume air Waduk Sepaku.
“Hasilnya disebut terlihat dengan turunnya hujan di wilayah tersebut dan sekitarnya selama dua hari terakhir,” ujar Budi.
Sementara untuk penanganan karhutla, OMC di Kabupaten Berau dilaksanakan pada 24-28 Agustus. Operasi tersebut dilakukan setelah adanya permintaan dari Bupati Berau kepada BNPB dan BMKG terkait kondisi titik panas di wilayah tersebut.
“Kemudian, OMC di Kabupaten Berau mulai dilaksanakan pada 24-28 Agustus untuk mengatasi titik panas berdasarkan permintaan Bupati Berau kepada BNPB dan BMKG,” katanya.
BMKG juga menyebut sebaran asap karhutla di Kaltim berpotensi bergerak ke arah barat laut hingga timur laut. Bahkan, asap dapat melintasi batas wilayah menuju Kalimantan Utara hingga Sabah, Malaysia.
Meski ancaman karhutla masih menjadi perhatian, status penanganan bencana di Kaltim saat ini masih berada pada level Siaga Bencana dan belum ditingkatkan menjadi Siaga Darurat.
Pemerintah daerah pun diminta tetap meningkatkan kewaspadaan. Apabila kondisi di masing-masing daerah berkembang menjadi darurat, pemerintah kabupaten/kota dapat segera mengajukan dukungan penanganan kepada BNPB. (*)
Reporter: Aditya Setiawan
Editor: Ramli






