Udara Samarinda Fluktuatif, Pneumonia dan Bronkitis Jadi Kasus Dominan di RS IA Moeis

Rumah Sakit IA Moeis, di Kota Samarinda.(FOTO: Istimewa)

benuakaltim.co.id, SAMARINDA – Kondisi kualitas udara di Kota Samarinda dalam beberapa hari terakhir menunjukkan perubahan.

Setelah sempat berada pada kategori sangat buruk hingga berbahaya pada pertengahan September 2026, kualitas udara kembali membaik meski paparan polutan masih perlu diwaspadai.

Berdasarkan pemantauan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda di Stasiun Pemantauan Kualitas Udara KLH/BPLH Jalan Harmonika, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) tercatat 30 pada 24 September 2026 pukul 06.00 WITA.

Angka tersebut masuk kategori baik dengan PM2.5 sebagai parameter kritis. Namun, pemantauan Stasiun Meteorologi APT Pranoto pada 26 September pukul 11.00 WITA mencatat konsentrasi PM2.5 sebesar 29,7 µg/m³ atau berada dalam kategori sedang.

Kondisi itu menunjukkan kualitas udara Samarinda masih dapat berubah mengikuti kondisi atmosfer maupun sumber polutan.

Kasus Pneumonia dan Bronkitis Cukup Tinggi
Di tengah kondisi udara yang fluktuatif, data pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Inche Abdoel Moeis (IA Moeis) Samarinda mencatat pneumonia dan bronkitis dewasa sebagai diagnosis gangguan pernapasan yang cukup banyak ditangani sepanjang Juli hingga September 2026 berjalan.

Baca Juga :  Sodetan Loa Janan Ditahan Sementara, Pemkot Samarinda Pilih Perkuat Komunikasi

Pada layanan Instalasi Gawat Darurat (IGD), pasien pneumonia tercatat sebanyak 100 kasus pada Juli. Angka tersebut meningkat menjadi 140 kasus pada Agustus, kemudian turun menjadi 57 kasus pada September.

Sementara itu, kasus bronkitis dewasa di IGD mencapai 127 kasus pada Juli. Jumlahnya sedikit menurun menjadi 119 kasus pada Agustus dan kembali turun menjadi 75 kasus pada September.

Pola serupa juga terlihat pada layanan rawat inap. Pasien pneumonia yang menjalani rawat inap tercatat 89 kasus pada Juli dan meningkat menjadi 91 kasus pada Agustus. Hingga September berjalan, jumlahnya tercatat 33 kasus.

Untuk bronkitis dewasa, terdapat 38 pasien rawat inap pada Juli, kemudian 33 kasus pada Agustus dan 14 kasus hingga September.

Asma hingga PPOK Juga Ditangani
Selain dua diagnosis tersebut, RSUD IA Moeis juga menangani pasien dengan sejumlah gangguan pernapasan lain, di antaranya asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), serta bronkitis anak.

Baca Juga :  Sodetan Loa Janan Ditahan Sementara, Pemkot Samarinda Pilih Perkuat Komunikasi

Pada layanan IGD, kasus bronkitis anak tercatat 2 kasus pada Juli, kemudian meningkat menjadi 14 kasus pada Agustus dan turun menjadi 5 kasus pada September.

Sementara kasus asma dan PPOK masing-masing tercatat 7 kasus pada Juli. Angka tersebut kemudian turun menjadi 3 kasus pada Agustus dan 2 kasus pada September.

Untuk pasien rawat inap, kasus asma tercatat 6 kasus pada Juli, meningkat menjadi 10 kasus pada Agustus, lalu 7 kasus pada September.
Sedangkan PPOK tercatat masing-masing 8 kasus pada Juli, 9 kasus pada Agustus, dan 4 kasus pada September.

Kasus bronkitis anak menjadi salah satu yang paling rendah, yakni 3 kasus pada Juli, 2 kasus pada Agustus, dan 1 kasus pada September.

Warga Diminta Kurangi Paparan Polutan
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda Ismed Kusasih mengingatkan masyarakat agar menyesuaikan aktivitas dengan kondisi kualitas udara.

Ketika kualitas udara kembali memburuk, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan. Penggunaan masker juga dianjurkan untuk membantu mengurangi paparan polutan.

Baca Juga :  Sodetan Loa Janan Ditahan Sementara, Pemkot Samarinda Pilih Perkuat Komunikasi

“Karena ini salah satu cara untuk mengurangi peningkatan penyakit,” kata Ismed saat dimintai keterangan, Senin (28/9/2026).

Meski terdapat perubahan jumlah kasus gangguan pernapasan dari Juli hingga September, data tersebut belum dapat digunakan untuk menyimpulkan adanya hubungan langsung antara kualitas udara dengan jumlah kasus.

Terlebih, data September masih berjalan dan kondisi kualitas udara Samarinda juga mengalami perubahan dari waktu ke waktu.

Dari sisi pelayanan, Dinkes Kota Samarinda memastikan fasilitas kesehatan tetap dipersiapkan untuk menghadapi kemungkinan peningkatan kasus gangguan pernapasan.

Kesiapan tersebut mencakup layanan pengobatan di fasilitas kesehatan tingkat dasar hingga ketersediaan alat kesehatan dan bahan habis pakai.

“Soal pelayanan tetap kami pastikan di layanan dasar seperti puskesmas, karena dari Pemkot Samarinda juga ada anggaran untuk kesiapsiagaan terhadap kemarau ini,” pungkasnya. (*)

Reporter: Aditya Setiawan
Editor: Ramli

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Are you human? Please solve:Captcha