benuakaltim.co.id, BERAU – Pemanfaatan lahan bekas tambang yang kerap dianggap sebagai area mati dan sulit dipulihkan kini menemukan titik terang. Penanaman kemiri sunan digadang-gadang menjadi solusi ampuh untuk menggabungkan pemulihan ekologi sekaligus mendatangkan dampak ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat lokal.
Praktisi sekaligus tim teknis restorasi lahan, Vito, membeberkan berbagai keunggulan kemiri sunan yang menjadikannya tanaman paling ideal untuk ditanam di kawasan kritis pascatambang.
“Kemiri sunan ini sangat tahan di tanah kritis, kondisi kering, maupun lereng curam. Untuk lahan-lahan bekas tambang ini dia sangat cocok, berbeda dengan tanaman lain yang terlalu sensitif terhadap kondisi tanah,” ujar Vito, Rabu (22/7/2026).
Ia menekankan konsep pemulihan lahan tidak boleh hanya berfokus pada sisi ekologis semata, melainkan harus mengusung dampak ekonomi langsung agar masyarakat tergerak untuk ikut menjaga kawasan konservasi tersebut.
Berdasarkan kalkulasi teknis yang dipaparkan Vito, potensi ekonomi dari budidaya tanaman ini sangat menggiurkan. Dalam area seluas 1 hektar, dapat ditanami sekitar 150 pohon kemiri sunan.
“150 pohon ini bisa menghasilkan sekitar 20 ton biji per tahun untuk setiap hektar. Dari 20 ton biji, bisa menghasilkan 8.800 liter crude oil, yang nantinya diturunkan menjadi hampir 8.000 liter biodiesel per hektar per tahun, serta 1.000 liter gliserol,” sebut Vito.
Hasil sampingan berupa gliserol tersebut juga memiliki nilai jual ekspor yang tinggi karena banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku industri kosmetik. Keunggulan lain dari kemiri sunan adalah usia produktifnya yang sangat panjang.
Tanaman ini sudah mulai berbuah pada usia 3 tahun dan sanggup terus memproduksi biji hingga rentang usia 50, 60, bahkan 75 tahun. Selain itu, kemiri sunan tidak bersaing dengan tanaman pangan (non-food crop) dan sangat cocok dikembangkan dengan pola tumpang sari.
“Di sela-sela tanaman bisa ditanami tumbuhan jangka pendek, seperti jahe merah atau kaliandra yang 1 tahun sudah bisa dipanen. Jadi, masyarakat punya hasil panen jangka pendek sambil menunggu kemiri sunan ini berbuah,” tambah Vito.
Dengan perawatan yang tergolong murah dan tidak menuntut pemupukan berlebih, kemiri sunan dinilai sanggup mendukung terciptanya circular economy di daerah. Pasokan biodiesel yang dihasilkan bisa dimanfaatkan secara internal oleh perusahaan tambang maupun koperasi daerah.
Pengalaman restorasi serupa sebelumnya pernah diterapkan di Palangka Raya. Lahan bekas galian tambang seluas 15 hektar berhasil disulap menjadi kebun buah-buahan produktif yang dikelola penuh oleh warga lokal.
“Harapan kita, program ini tidak cuma sekadar ada produksi hasil, tapi berpotensi menambah pendapatan daerah melalui penyerapan tenaga kerja lokal, mulai dari pembibitan, penanaman, panen, hingga proses penyulingan biodiesel,” pungkas Vito. (*)
Reporter: Georgie Sihaloho
Editor: Endah Agustina






