El Nino Menguat, BMKG Ingatkan Kaltim Siaga Kemarau Panjang hingga 2027

Ilustrasi kemarau. (FOTO: VIVA)

benuakaltim.co.id, SAMARINDA – Masyarakat Kalimantan Timur diminta mulai meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi kemarau panjang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Samarinda memprediksi kondisi kering dapat berlangsung hingga awal 2027 akibat menguatnya fenomena El Nino.

Prakirawan BMKG Samarinda, Fatuh Hidayatullah, mengatakan El Nino saat ini berada pada kategori kuat. Kondisi tersebut ditunjukkan oleh nilai Indeks Nino 3.4 yang telah mencapai 1,56, melewati ambang batas kategori kuat sebesar 1,5.

“El Nino ini telah berada pada kondisi aktif dan pada intensitas kuat dengan Indeks Nino 3,4 yang sudah mencapai angka 1,56, di mana batas threshold untuk kategori kuat adalah 1,5,” ucpanya kepada benuakaltim.co.id, saat dikonfirmasi, Senin (10/8/2026).

Baca Juga :  Cegah Kerusakan Jalan Akibat Air, BBPJN Kaltim Genjot Drainase di Poros Bengalon-Sangkulirang

Menurutnya, El Nino kuat tersebut berpotensi bertahan hingga setidaknya awal kuartal I 2027. Dampaknya, sejumlah wilayah berpeluang mengalami musim kemarau yang lebih panjang dengan kondisi yang lebih kering dibandingkan biasanya.

Risiko tersebut dapat semakin meningkat apabila fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) memasuki fase positif.

Fatuh menjelaskan, saat ini IOD masih berada dalam kondisi netral. Namun, BMKG memprediksi fenomena tersebut berpeluang bergerak menuju fase positif pada September hingga Desember 2026.

“Untuk saat ini IOD masih berada pada fase netral. Namun diprediksi berubah menjadi IOD positif pada periode September hingga Desember,” jelasnya.

Jika kedua fenomena tersebut terjadi secara bersamaan, kondisi atmosfer dapat semakin mendukung terbentuknya musim kering yang panjang di sejumlah wilayah Indonesia.

Baca Juga :  BBPJN Kaltim Kerjakan Overlay AC-WC di STA 18, Rehabilitasi Minor Sepanjang 758 Meter

Untuk Kalimantan Timur sendiri, puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Agustus 2026.

Indikasi tersebut juga terlihat dari pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH). Sejumlah daerah di Kaltim telah masuk kategori HTH menengah, terutama wilayah bagian selatan.

Kondisi kering turut dipengaruhi masuknya massa udara dari arah timur. Massa udara tersebut relatif lebih panas dan kering ketika melintasi wilayah Kalimantan, sehingga ikut memperkuat kondisi kemarau.

Meski begitu, hujan masih terjadi di beberapa wilayah Kaltim dalam beberapa hari terakhir. BMKG mengingatkan kondisi tersebut tidak bisa dijadikan patokan bahwa musim kemarau telah berakhir.

Fatuh menjelaskan, hujan yang turun saat ini lebih banyak dipengaruhi dinamika atmosfer yang sifatnya sementara. Salah satunya aktivitas gelombang atmosfer Rossby dan Kelvin yang membawa tambahan uap air ke wilayah Kaltim. Karena itu, masyarakat diminta tidak lengah hanya karena hujan masih turun.

Baca Juga :  PDKT Imbau Warga Tabang Tahan Diri, Utamakan Persatuan dan Kedamaian

Sebaliknya, air hujan yang tersedia saat ini sebaiknya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air sekaligus menjadi persiapan menghadapi potensi periode kering berikutnya.

BMKG juga mengimbau masyarakat, pemerintah daerah, dan berbagai sektor terkait meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi dampak musim kemarau, terutama potensi kekeringan serta kondisi lingkungan yang semakin kering.

Kewaspadaan dinilai penting agar masyarakat dapat melakukan langkah antisipasi lebih awal apabila periode kering berlangsung lebih panjang dari kondisi normal. (*)

Reporter: Aditya Setiawan

Editor: Ramli

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Are you human? Please solve:Captcha