Suhu Panas Capai 38 Celcius, BPBD Berau Catat 34 Kejadian Karhuta Sepanjang Juni-Agustus

PEMADAMAN: Pemadaman kebakaran lahan dan hutan yang terjadi di Kabupaten Berau. (ISTIMEWA)

benuakaltim.co.id, BERAU – Gelombang panas dampak fenomena El Nino yang memicu kenaikan suhu ekstrem hingga 36 sampai 38 derajat selsius memicu lonjakan kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau mencatat, sedikitnya ada 34 kejadian karhutla yang ditangani sejak Juni hingga Agustus 2026. Akibatnya, diperkirakan lebih dari 40 hektare lahan hangus terbakar.

Kepala BPBD Kabupaten Berau, Masyhadi Muhdi, mengungkapkan seluruh kecamatan di Kabupaten Berau berstatus terdampak panas merata akibat El Nino. Kendati demikian, terdapat lima kecamatan utama yang mencatatkan tingkat kemunculan titik panas (hotspot) dengan kategori tinggi (high) hingga memicu munculnya titik api (firespot).

“Titik hotspot yang masuk kategori high ini sangat berpotensi menjadi firespot atau titik api. Ada lima kecamatan yang titiknya paling tinggi beberapa hari terakhir, yaitu Sambaliung, Pulau Derawan (Tanjung Batu), Tabalar, Biatan, dan Teluk Bayur,” ujar Masyhadi saat ditemui, Selasa (11/8/2026).

Baca Juga :  523 WBP Rutan Tanjung Redeb Diusulkan Dapat Remisi HUT RI ke-81

Ia menjelaskan, terbakarnya lahan di kawasan tersebut dipicu oleh kondisi vegetasi permukaan yang mengering total di tengah terik panas ekstrem, sehingga sangat mudah tersulut.

Menurut Masyhadi, penyebab utama munculnya titik api di lapangan sangat bervariasi. Selain tradisi pembukaan lahan dengan cara membakar yang masih ditemui, faktor kelalaian manusia di tengah musim kering juga menjadi pemicu utama.

“Penyebabnya macam-macam, yang utama mungkin pembakaran untuk pembukaan lahan. Tapi faktor ketidaksengajaan juga ada, seperti buang putung rokok sembarangan saat cuaca kering. Ketiup angin deras langsung menyambar. Begitu juga warga yang membakar sampah lalu ditinggalkan sebelum benar-benar padam,” terangnya.

Hingga saat ini, area dengan kebakaran terluas terdeteksi di wilayah Terang Sebangun (mencapai 10 hektare) serta kawasan Tumbit Melayu, Tumbit Dayak, dan Kasai yang rata-rata mencapai 5 hektare.

Kebakaran di kawasan Tumbit cukup menyita perhatian petugas karena membakar lahan gambut yang memicu asap pekat. Di tengah mengganasnya karhutla, BPBD Berau membeberkan sejumlah kendala krusial yang melumpuhkan efektivitas pemadaman di lapangan.

Baca Juga :  Jalan Alternatif Biatan Ulu-Biatan Lempake Rusak, Warga Harus Tempuh Rute Memutar

Kendala utama terletak pada minimnya ketersediaan armada, polemik pembagian wewenang posko, hingga keterbatasan anggaran BBM. Masyhadi memaparkan, semenjak kelembagaan Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) berpisah struktur dari BPBD, armada tangki pemadam dialihkan.

BPBD Berau saat ini praktis hanya menyisakan 4 unit mobil tangki di posko induk, sementara 22 unit armada di 11 kecamatan kini sepenuhnya milik pemadam kebakaran.

“Dulu sebelum pisah, semua personel dan armada di kecamatan berada di bawah kendali penuh saya. Sekarang sudah beda dinas, jadi koordinasi tidak bisa se-fleksibel dulu. Kami juga tidak bisa sembarangan meminjam unit armada Damkar untuk operasional BPBD karena urusan tanggung jawab inventaris jika terjadi kerusakan,” jelasnya.

Selain keterbatasan personel dan unit kendaraan, akses menuju titik api yang terisolasi serta ketiadaan sumber air di sekitar lokasi kejadian kerap menyulitkan petugas.

Baca Juga :  Meski Belum Capai FCR, Perumda Batiwakkal Setor Dividen Rp429,3 Juta ke Kas Daerah

“Jarak tempuh yang makin jauh juga memakan anggaran BBM yang tidak sedikit. BBM sekarang mahal, dan makin jauh lokasi karhutla yang harus dijangkau dari Posko Induk Tanjung Redeb, makin membengkak kebutuhan BBM kami,” tambah Masyhadi.

Meski karhutla telah menghanguskan puluhan hektare lahan, BPBD memastikan kepulan asap sejauh ini belum mengganggu aktivitas penerbangan di bandara setempat dan masih berada dalam ambang batas aman. Ancaman kekeringan air bersih maupun gagal panen warga juga dilaporkan belum terjadi.

“Fokus kami saat ini adalah penanganan karhutla. Kekeringan dan kesulitan air bersih belum ada laporan. Namun jika nanti ada wilayah yang krisis air bersihseperti yang pernah terjadi pada 2019 lalu di Sambaliung atau Teluk Bayur, kami sudah berkoordinasi dengan PDAM” pungkasnya. (*)

Reporter: Georgie

Editor: Endah Agustina

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Are you human? Please solve:Captcha